3.800 STDB Diterbitkan Jelang Peringatan 111 Tahun Kelapa Sawit di Aceh Tamiang 


Agricom.id, JAKARTA – Diakui  atau tidak, Kabupaten Aceh Tamiang memegang peranan penting dalam pengembangan kelapa sawit baik skala industri maupun perkebunan rakyat, lantaran disamping menjadi daerah pertama dimulainya pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, Kabupaten Aceh Tamiang juga menjadi daerah yang menjalankan Pengembangan Daerah Sumber Terverifikasi yang berbasis yurisdiksi, suatu model yang bertujuan untuk menyediakan mekanisme pasar yang memungkinkan pengadaan pasokan bahan baku yang bertanggungjawab dengan basis yurisdiksi yang menghubungkan pasokan dengan pasar.

Model pengembangan program kelapa sawit berkelanjutan yang melibatkan multi pihak baik pemerintah, sektor swasta, lembaga dan juga masyarakat. Diungkapkan Isnaini Jalil dari Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) Aceh Tamiang, ada beberapa kegiatan penting yang dilakukan dalam upaya mewujudkan sistem Budidaya Kelapa Sawit berkelanjutan di Kabupaten Aceh Tamiang, pertama, penyusunan database petani dan pengukuran lahan budidaya.

Lantas kedua, sertifikasi lahan Petani, ketiga, penerbitan Surat Tanda Daftar Budidaya (STD-B) untuk Petani kelapa Sawit Berkelanjutan, keempat, penerbitan Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL), kelima, penguatan Kapasitas petani melalui Training Penguatan Kelompok.

Selanjutnya keenam, peningkatan pengetahuan teknik budidaya tanaman kelapa sawit melalui Training Good Agricultural Practise (GAP), ketujuh, pendampingan seritifikasi Indonesian Suistinable Palm Oil (ISPO) dan Rountable Suistinable Palm Oil (RSPO) bagi kelompok petani kelapa sawit berkelanjutan, kedelapan, dukungan Sertifikasi RSPO bagi Perusahaan Mitra, kesembilan, Menghubungkan kemitraan Petani dengan Perusahaan dalam satu rantai pasok,  serta kesepuluh, pemulihan fungsi Kawasan yang telah rusak melalui kegiatan Restorasi.

“Inisiatif tersebut telah di mulai pada tahun 2020 di Wilayah Tenggulun dan berhasil membina 500 petani kelapa sawit untuk menjalankan pengembangan kelapa sawit berkelanjutan dan memfasilitasi petani tersebut untuk mendapatkan sertifikasi ISPO dan RSPO,” catat Isnaini Jalil dalam keterangannya kepada Agricom.id, belum lama ini.

Selain itu, kegiatan pembinaan berhasil membina 2.220 petani dari 11 kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang. Sebagai bentuk dukungan dan komitmen,  Dinas Pertanian Perkebunan  dan Peternakan Kabupaten Aceh Tamiang telah menerbitkan STD-B untuk petani kelapa sawit berkelanjutan Aceh Tamiang sebanyak 3.800 STD-B dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Aceh Tamiang juga memfasilitasi petani untuk membuat SPPL untuk 2.720 petani sebagai syarat sertifikasi ISPO dan RSPO.

“Kolaborasi tersebut juga dilakukan oleh kabupaten Aceh Tamiang bersama dengan dengan Kantor Wilayah BPN Provinsi Aceh yang akan memberikan Sertifikat Hak Milik (SHM) lahan gratis untuk 5000 Persil Lahan Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan dan pada tahun 2022 ini juga terdapat tambahan 1500 persil lahan petani kelapa sawit berkelanjutan untuk dilakukan proses sertifikasi,” catat Isnaini.

Atas dasar hal tersebut diatas, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang bersama dengan Pusat Unggulan Perkebunan Lestari (PUPL) akan   menyelenggarakan kegiatan peringatan “Hari Sawit Indonesia ke-111, Dirangkai dengan Lokakarya dan Expo Kelapa Sawit Berkelanjutan di Kabupaten Aceh Tamiang” yang dilakukan secara kolaboratif dengan mitra pembangunan, koalisi swasta dan masyarakat aceh secara menyeluruh, rencananya diadakan pada 23 November 2022 mendatang. (A2)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP