Harga CPO Bursa Malaysia Menguat Pada Rabu (4/2), Permintaan India Jadi Penopang

Harga CPO Bursa Malaysia Menguat Pada Rabu (4/2), Permintaan India Jadi Penopang
Agricom.id

05 February 2026 , 06:31 WIB

Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali menguat pada Rabu (4/2/2026) setelah dua sesi tertekan, didukung kenaikan harga minyak nabati di Dalian serta lonjakan impor minyak sawit India. Foto: Agricom

 

AGRICOM, KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali menguat pada perdagangan Rabu (4/2/2026), setelah mengalami tekanan selama dua sesi sebelumnya. Penguatan harga ini terutama ditopang oleh kenaikan harga minyak nabati di Bursa Dalian, meski pasar masih dibayangi penguatan nilai tukar ringgit serta pelemahan harga minyak kedelai di Amerika Serikat.

Merujuk laporan Reuters, kontrak acuan CPO pengiriman April 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tercatat naik 5 ringgit atau sekitar 0,12 persen menjadi 4.220 ringgit per ton pada jeda tengah hari perdagangan.

BACA JUGA: Ringgit Perkasa Tekan Harga CPO, Bursa Malaysia Ditutup Melemah

Sentimen positif datang dari pasar China. Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai paling aktif menguat 0,25 persen, sementara kontrak minyak sawit naik 0,33 persen. Kenaikan ini memberikan dukungan bagi harga CPO global, mengingat minyak sawit kerap bergerak seiring dengan harga minyak nabati pesaingnya dalam perebutan pangsa pasar internasional.

Namun, penguatan harga CPO di Malaysia tertahan oleh pelemahan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT), yang turun 0,18 persen. Selain itu, faktor nilai tukar juga menjadi perhatian pelaku pasar. Ringgit Malaysia—mata uang utama dalam perdagangan CPO—menguat 0,13 persen terhadap dolar Amerika Serikat, sehingga membuat harga sawit menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

BACA JUGA: Tender CPO KPBN Inacom Rabu (4/2) Masih WD, Penawaran Tertinggi Rp 14.900 Per Kg

Dari sisi fundamental, kinerja ekspor memberikan sentimen yang cukup kuat. Pengapalan produk minyak sawit Malaysia sepanjang Januari diperkirakan meningkat secara bulanan antara 14,9 persen hingga 17,9 persen. Proyeksi tersebut berdasarkan data dari perusahaan inspeksi AmSpec Agri Malaysia serta surveyor kargo Intertek Testing Services.

Permintaan global, khususnya dari India, juga menunjukkan penguatan signifikan. Impor minyak sawit India dilaporkan melonjak 51 persen pada Januari, mencapai level tertinggi dalam empat bulan terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh harga minyak sawit yang lebih kompetitif dibandingkan minyak kedelai, sehingga mendorong kilang-kilang di India meningkatkan pembelian.

Sebaliknya, impor minyak kedelai India justru merosot ke titik terendah dalam 19 bulan, menurut keterangan sejumlah pedagang. Kondisi ini memperkuat posisi minyak sawit di pasar global, meski volatilitas nilai tukar dan pergerakan minyak nabati pesaing masih akan menjadi faktor penentu arah harga dalam jangka pendek. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP