Harga CPO di Bursa Malaysia stagnan di tengah penurunan ekspor dan lemahnya permintaan global, meski mendapat sentimen positif dari kenaikan harga minyak mentah. Foto: Agricom
AGRICOM, JAKARTA – Pergerakan harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global cenderung stagnan pada perdagangan Kamis (16/4/2026), di tengah lemahnya permintaan dari negara importir utama serta meningkatnya ekspektasi produksi global.
Dilansir dari Reuters, harga kontrak berjangka CPO acuan untuk pengiriman Juli 2026 di Bursa Malaysia Derivatives turun tipis sebesar RM2 per ton atau sekitar 0,04% menjadi RM4.495 per ton.
Tekanan pasar juga datang dari sisi ekspor. Data survei kargo menunjukkan bahwa ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1–15 April mengalami penurunan signifikan, yakni berkisar antara 34,2% hingga 34,7% dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan melemahnya permintaan global dalam jangka pendek.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Menguat Tipis di Tengah Tekanan Ekspor
Di sisi mata uang, nilai tukar ringgit Malaysia tercatat melemah tipis sebesar 0,05% terhadap dolar AS pada hari yang sama. Meski demikian, secara mingguan ringgit masih menguat sekitar 0,20%, yang turut memengaruhi daya saing harga CPO di pasar internasional.
Sementara itu, di pasar domestik, harga CPO melalui PT Karisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) tercatat mengalami withdraw (WD) dengan harga penawaran tertinggi sebesar Rp 15.167 per kilogram. Angka ini turun Rp 55 per kilogram atau sekitar 0,36% dibandingkan posisi Rabu (15/4/2026) yang mencapai Rp 15.222 per kilogram.
Di tengah tekanan tersebut, sentimen positif datang dari pasar energi. Harga minyak mentah dunia tercatat menguat setelah sebelumnya melemah, dipicu ketidakpastian hasil pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memengaruhi pasokan energi global.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Rabu (15/4) WD Lagi, Bursa Malaysia Ditutup Menguat Tipis
Penguatan harga minyak mentah ini memberikan dukungan bagi CPO, mengingat komoditas ini menjadi salah satu bahan baku utama biodiesel, sehingga lebih kompetitif ketika harga energi fosil meningkat.
Di pasar minyak nabati lainnya, pergerakan harga menunjukkan tren positif. Harga kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,57%, sementara kontrak minyak sawit menguat 0,32%. Adapun harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga tercatat naik sebesar 0,82%.
Kombinasi antara tekanan permintaan, dinamika mata uang, serta dukungan dari pasar energi membuat pergerakan CPO masih cenderung terbatas. Pelaku pasar kini menantikan sinyal yang lebih kuat dari sisi permintaan maupun produksi untuk menentukan arah harga selanjutnya. (A3)