Kementan Perkuat Pengawalan Sentra Pangan Merauke untuk Jaga Produksi di Tengah Tantangan Iklim


AGRICOM, MERAUKE – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat pengawalan kawasan sentra pangan nasional di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, guna memastikan keberlanjutan produksi pangan sekaligus menjaga efektivitas berbagai program pendampingan petani di tengah dinamika iklim yang semakin kompleks.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kementan melakukan pemantauan langsung terhadap kondisi pertanaman dan panen padi di sejumlah wilayah produksi pada Sabtu (30/5/2026). Lokasi yang dikunjungi meliputi Kampung Yasamulya SP2 dan Kampung Waninggap Miraf SP5 di Distrik Tanah Miring, serta Kampung Sidomulyo di Distrik Semangga.

Sebagai bagian dari penguatan pengawalan produksi, Kementan melakukan pemantauan langsung terhadap kondisi pertanaman dan panen di sejumlah kawasan produksi padi di Kabupaten Merauke pada Sabtu (30/5/2026), meliputi Kampung Yasamulya SP2 dan Kampung Waninggap Miraf SP5 di Distrik Tanah Miring serta Kampung Sidomulyo di Distrik Semangga.

BACA JUGA: Harga Referensi CPO Juni Turun 1,91 Persen, PE Dipatok USD 128,69 per MT dan BK USD 148 per MT

Kegiatan tersebut melibatkan jajaran Kementan bersama Dandim 1707/Merauke, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHBun), penyuluh pertanian lapangan, dan kelompok tani setempat untuk memastikan berbagai langkah mitigasi dan pendampingan produksi berjalan optimal.

Pengawalan lapangan ini merupakan tindak lanjut instruksi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman agar setiap potensi kendala produksi dapat terdeteksi dan ditangani sejak dini sehingga produktivitas pertanian di sentra pangan Merauke tetap terjaga.

Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Hermanto, menjelaskan bahwa pemantauan lapangan dilakukan untuk memetakan berbagai faktor yang memengaruhi produktivitas pertanian sehingga langkah penanganan yang diperlukan dapat segera dilakukan.

BACA JUGA: Harga Referensi Biji Kakao Juni 2026 Melonjak 17%, Dipicu Gangguan Logistik Global dan Turunnya Pasokan Nigeria

“Kami turun langsung untuk memetakan, jika memang terjadi penurunan produksi, apa penyebab utamanya. Setelah bersama-sama meninjau tiga lokasi tadi, memang ditemukan adanya penurunan produksi, namun kondisinya tidak signifikan dan bukan gagal panen total (puso),” ujar Hermanto dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Senin (1/6).

Menurutnya, dinamika iklim yang ditandai dengan tingginya curah hujan pada musim rendengan menjadi tantangan yang perlu diantisipasi bersama. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), sehingga penguatan pengendalian dan pendampingan kepada petani menjadi langkah penting untuk menjaga produktivitas pertanian.

Untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah dinamika iklim, Kementan bersama pemerintah daerah terus memperkuat berbagai langkah mitigasi dan adaptasi. Upaya yang dilakukan antara lain melalui perbaikan dan optimalisasi jaringan irigasi, pemanfaatan varietas yang lebih adaptif terhadap kondisi genangan maupun banjir, penguatan pendampingan budidaya oleh penyuluh pertanian, serta percepatan penanganan berbagai kendala yang berpotensi memengaruhi hasil produksi petani.

BACA JUGA: Kementan Perketat Pengawasan, Tegaskan Tidak Ada Ruang bagi Mafia Pangan

Selain itu, pengendalian OPT juga terus diperkuat melalui pendekatan pengendalian terpadu yang melibatkan petani, penyuluh, dan dinas teknis di daerah. Ketersediaan sarana pengendalian yang sesuai dengan karakteristik serangan OPT di wilayah Merauke menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kondisi pertanaman, terutama pada periode curah hujan tinggi yang meningkatkan kerentanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.

Sebagai langkah antisipasi ke depan, Hermanto menegaskan pentingnya memperkuat konsolidasi dan koordinasi antara petani, penyuluh lapangan, serta dinas terkait agar pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan.

“Teman-teman di lapangan sudah mulai mengonsolidasikan gerakan untuk memastikan serangan hama dapat diminimalisir ke depannya. Hama memang tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi sangat bisa dikendalikan agar tidak sampai terjadi ledakan kasus,” tambahnya.

BACA JUGA: 18 Tahun Hari Susu Nusantara, DPN Nilai Target Pengembangan Persusuan Belum Optimal

Selain penguatan pengendalian OPT, Kementan juga terus mendorong perbaikan infrastruktur pendukung pertanian, termasuk optimalisasi jaringan irigasi dan penerapan teknologi budidaya yang adaptif terhadap perubahan iklim. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga produktivitas lahan sekaligus mengurangi risiko kerugian yang dihadapi petani akibat cuaca ekstrem.

Ke depan, Kementan akan terus memperkuat pengawalan sentra-sentra produksi pangan strategis nasional melalui sinergi dengan pemerintah daerah, TNI, penyuluh pertanian, dan kelompok tani. Dengan langkah mitigasi yang tepat, penguatan sarana dan prasarana, serta pendampingan yang berkelanjutan, Kementan optimistis produktivitas pertanian di Merauke dapat terus terjaga sehingga mendukung upaya mewujudkan ketahanan dan swasembada pangan nasional. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP