AGRICOM, KENDAL – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat transformasi subsektor perkebunan melalui penerapan Nature-Based Solution (NBS)-Agroforestry sebagai bagian dari strategi menghadapi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekebun. Komitmen tersebut ditandai dengan dimulainya program Kick Off Penanaman NBS-Agroforestry di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Rabu (29/7/2026).
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Direktorat Jenderal Perkebunan, PT Pupuk Indonesia, serta Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan Kementerian Pertanian. Melalui pendekatan agroforestri, pemerintah mendorong sistem budidaya yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan guna menciptakan perkebunan yang lebih produktif sekaligus berkelanjutan.
BACA JUGA: ESDM Resmikan Alokasi Biodiesel B50 2026, Kontrak Badan Usaha Segera Dimulai
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto, mengatakan pelaksanaan program tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang telah ditandatangani para pihak pada 13 April 2026.
Menurut Heru, NBS-Agroforestry menjadi model kolaborasi yang tidak hanya mendukung rehabilitasi lahan, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat, membuka peluang usaha baru, dan mendorong berkembangnya ekonomi hijau di kawasan perdesaan.
"Program ini merupakan langkah strategis untuk membangun subsektor perkebunan yang produktif sekaligus berkelanjutan. Selain memulihkan kualitas lahan, pendekatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan kompetensi masyarakat dan kesejahteraan petani melalui pengembangan ekonomi hijau," ujarnya, dikutip Agricom.id dari laman Ditjenbun, Jumat (31/7).
BACA JUGA: Mentan Amran Ajak Pesantren Jadi Sentra Pertanian, Kementan Siapkan Bibit dan Olah Lahan Gratis
Heru menjelaskan, sistem agroforestri mengombinasikan tanaman perkebunan dengan tanaman kehutanan maupun tanaman lainnya sehingga mampu meningkatkan konservasi tanah dan air, memperbesar cadangan karbon, serta meningkatkan ketahanan perkebunan terhadap dampak perubahan iklim.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi usaha perkebunan dan memperkuat daya saing komoditas Indonesia di pasar internasional.
Sejalan dengan upaya mempercepat hilirisasi sektor perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan pada 2026 juga mengembangkan sejumlah kawasan komoditas strategis, meliputi kelapa seluas 151.554 hektare, kopi 85.700 hektare, kakao 174.260 hektare, tebu 97.970 hektare, pala 43.600 hektare, lada 4.954 hektare, serta jambu mete 49.658 hektare. Pemerintah turut memberikan dukungan berupa penyediaan benih unggul, pupuk, hingga bantuan operasional bagi pekebun untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat hilirisasi.
Heru menekankan bahwa keberhasilan implementasi NBS-Agroforestry sangat bergantung pada sinergi seluruh pemangku kepentingan, termasuk keterlibatan generasi muda dalam pembangunan sektor perkebunan.
Menurutnya, petani milenial memiliki peran penting dalam mempercepat transformasi pertanian melalui pemanfaatan inovasi, teknologi, dan penguatan jiwa kewirausahaan sehingga mampu melahirkan lebih banyak agripreneur yang berdaya saing.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pembangunan pertanian nasional harus mampu menjawab tantangan perubahan iklim tanpa mengabaikan peningkatan kesejahteraan petani.
BACA JUGA: Harga Karet SGX-SICOM Turun Rp650 pada Kamis (30/7), Tertinggi Rp38.424/Kg
Ia menilai penerapan NBS-Agroforestry menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Dengan dukungan kolaborasi lintas sektor, inovasi, serta keterlibatan generasi muda, pemerintah optimistis mampu mewujudkan subsektor perkebunan yang lebih maju, bernilai tambah, kompetitif, dan berkelanjutan. (A3)