AGRICOM, JAKARTA — Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia melanjutkan penguatannya dan bertahan di atas level MYR 4.800 per ton. Harga CPO bahkan mencapai posisi tertinggi sejak awal April, didukung kenaikan harga minyak nabati di pasar global.
Dilansir Trading Economics, penguatan harga minyak nabati di Bursa Dalian dan pasar Chicago menjadi salah satu faktor utama yang menopang sentimen positif di pasar CPO. Kenaikan harga minyak mentah dunia juga memberikan tambahan dorongan terhadap perdagangan minyak sawit.
Pasar energi mendapat perhatian setelah prospek tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah dinilai semakin menjauh. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi dan dampaknya terhadap harga minyak mentah.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Melemah ke RM4.711 per Ton, Stok Tinggi Tekan Pasar
Pergerakan minyak mentah turut memengaruhi pasar minyak nabati karena minyak sawit memiliki keterkaitan dengan sektor energi, terutama melalui penggunaannya sebagai bahan baku biodiesel.
Meski demikian, penguatan ringgit Malaysia membatasi kenaikan harga CPO. Mata uang Malaysia yang lebih kuat berpotensi membuat minyak sawit menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing, sehingga dapat memengaruhi daya saing ekspor.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik ke Rp15.835 Per Kg pada Selasa (18/8)
Di pasar domestik, harga CPO yang diperdagangkan melalui PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) juga mengalami penguatan.
Harga CPO KPBN ditetapkan sebesar Rp15.835/kg pada Selasa (18/8/2026). Harga tersebut naik Rp135/kg atau sekitar 0,86% dibandingkan perdagangan sebelumnya pada Jumat (14/8/2026), ketika harga CPO berada di level Rp15.700/kg.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO Agustus Turun ke USD 996,52/MT, Bea Keluar dan Pungutan Ekspor Ikut Disesuaikan
Kenaikan harga di pasar domestik tersebut sejalan dengan penguatan harga minyak sawit di pasar global, meskipun arah pergerakan selanjutnya masih akan dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak nabati, minyak mentah, nilai tukar ringgit, serta permintaan ekspor minyak sawit Malaysia. (A3)