AGRICOM, JAKARTA — Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah pada perdagangan Jumat (14/8/2026). Tekanan terhadap pasar datang dari meningkatnya persediaan minyak sawit Malaysia pada akhir Juli, di tengah pelemahan harga minyak kedelai di Chicago.
Kontrak berjangka CPO acuan untuk pengiriman Oktober 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun RM13 per ton atau sekitar 0,28% menjadi RM4.711 per metrik ton. Meski melemah dalam perdagangan harian, kontrak tersebut masih mencatat kenaikan 0,73% sepanjang pekan ini.
Sentimen utama yang membebani pasar berasal dari peningkatan stok minyak sawit Malaysia. Data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan persediaan minyak sawit Negeri Jiran pada akhir Juli mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Naik ke RM4.724 per Ton, KPBN Inacom Ikut Menguat
Kenaikan stok terjadi ketika produksi minyak sawit masih berada pada level relatif tinggi, sementara pertumbuhan permintaan ekspor belum sepenuhnya mampu menyerap tambahan pasokan yang masuk ke pasar.
Pergerakan harga di Malaysia berbeda dengan pasar domestik Indonesia. Harga CPO yang diperdagangkan melalui PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada Jumat (14/8/2026) ditetapkan sebesar Rp15.700 per kilogram.
Harga tersebut naik Rp12 per kilogram atau sekitar 0,08% dibandingkan perdagangan Kamis (13/8/2026), ketika harga CPO KPBN berada di level Rp15.688 per kilogram.
BACA JUGA: CPO KPBN Bertahan di Rp15.700/Kg, Stok Malaysia Tekan Harga Bursa
Sementara itu, pergerakan minyak nabati global berlangsung bervariasi. Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai yang paling aktif menguat 1,04%, sedangkan kontrak minyak sawit naik 1,43%.
Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) melemah 0,37%. Perbedaan arah pergerakan harga minyak nabati tersebut menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan pelaku pasar dalam membaca prospek harga CPO pada perdagangan berikutnya.
Dengan stok Malaysia yang masih tinggi, pasar akan mencermati perkembangan produksi dan ekspor pada Agustus untuk melihat apakah permintaan mampu menyerap tambahan pasokan. Di sisi lain, penguatan harga CPO KPBN menunjukkan pasar domestik Indonesia masih memiliki dinamika tersendiri di tengah tekanan yang terjadi di pasar berjangka Malaysia. (A3)