Harga CPO Malaysia Naik ke RM4.724 per Ton, KPBN Inacom Ikut Menguat


AGRICOM, JAKARTA — Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives berbalik menguat pada perdagangan Kamis (13/8/2026), setelah sempat bergerak melemah di tengah sesi. Kenaikan harga didukung penguatan minyak nabati pesaing di bursa Dalian, sementara pelaku pasar masih menanti katalis baru untuk menentukan arah perdagangan selanjutnya.

Dilansir Reuters, kontrak CPO acuan untuk pengiriman Oktober 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup naik RM27 per ton atau 0,57% menjadi RM4.724 per ton. Pada level tersebut, harga CPO Malaysia setara sekitar US$1.156,43 per ton.

BACA JUGA: Harga CPO Rabu (12/8) Turun, Tender KPBN Inacom Withdraw di Rp15.602/Kg

Penguatan harga sawit Malaysia sejalan dengan pergerakan minyak nabati lainnya. Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai (soyoil) yang paling aktif tercatat naik 0,5%, sedangkan kontrak minyak sawit menguat 0,4%.

Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) bergerak lebih terbatas dengan kenaikan sekitar 0,06%.

BACA JUGA: APHI dan GAPKI Imbau Anggota Perkuat Pencegahan Karhutla

Kenaikan harga minyak nabati pesaing turut memberikan sentimen positif bagi pasar CPO. Sebagai salah satu komoditas minyak nabati utama dunia, pergerakan harga minyak sawit kerap mengikuti dinamika harga minyak kedelai, minyak sawit Dalian, serta perkembangan permintaan global.

Di pasar domestik, harga CPO yang ditawarkan melalui PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom juga mencatat penguatan. Pada perdagangan Kamis (13/8/2026), harga CPO ditetapkan sebesar Rp15.688 per kg.

BACA JUGA: Hilirisasi Sawit Berbasis Koperasi, Menkop Dorong Petani Perkuat Daya Tawar

Harga tersebut naik Rp86 per kg atau sekitar 0,55% dibandingkan harga penawaran tertinggi pada perdagangan Rabu (12/8/2026) yang tercatat sebesar Rp15.602 per kg.

Penguatan harga di pasar domestik sejalan dengan pergerakan positif CPO di Bursa Malaysia. Ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan produksi dan stok minyak sawit, permintaan ekspor, serta pergerakan harga minyak nabati pesaing sebagai faktor utama yang menentukan arah harga CPO. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP