Dok. GAPKI untuk Agricom / Ketua Umum GAPKI Eddy Martono saat menyampaikan arah penguatan industri sawit melalui inovasi, produktivitas, dan transformasi pada 9th Borneo Palm Oil Forum 2026 di Balikpapan.
AGRICOM, BALIKPAPAN — Industri kelapa sawit Indonesia harus terus memperkuat inovasi, meningkatkan produktivitas, mempercepat hilirisasi, dan membangun kolaborasi lintas sektor untuk menghadapi tantangan global. Pesan tersebut mengemuka dalam 9th Borneo Forum 2026 yang digelar Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalimantan Timur di Platinum Hotel & Convention Hall Balikpapan, Kamis (6/8/2026).
Mengusung tema “Resilience, Innovation, and Transformation: Empowering the Palm Oil Industry Beyond Sustainability”, forum tersebut menegaskan pentingnya transformasi industri sawit agar tetap kompetitif sekaligus mampu memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional.
BACA JUGA: GAPKI: Riset Sawit Harus Mampu Hadirkan Inovasi Industri Minyak Sawit Berkelanjutan
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengatakan industri kelapa sawit telah menunjukkan ketahanan dalam menghadapi berbagai periode krisis, mulai dari krisis moneter 1998, krisis keuangan global 2008–2009, hingga pandemi COVID-19.
Menurutnya, dalam setiap kondisi sulit, sektor sawit tetap menjadi salah satu penopang ekonomi Indonesia melalui kontribusi devisa, penciptaan lapangan kerja, dan penggerak ekonomi daerah.
“Pada masa pandemi, devisa sawit mencapai sekitar USD39,2 miliar. Bahkan ketika banyak sektor melakukan pemutusan hubungan kerja, industri sawit tetap membuka kesempatan kerja baru,” ujar Eddy dalam keterangan resmi yang diterima Agricom, Jumat (7/8/2026).
BACA JUGA: GAPKI Teken MoU dengan Fat and Oil Union of Russia, Bidik Penguatan Ekspor Sawit
Ia menegaskan, industri sawit memiliki peran strategis karena menyerap jutaan tenaga kerja, menggerakkan ekonomi daerah, sekaligus menjadi sumber devisa yang penting bagi Indonesia.
Ke depan, Eddy optimistis produktivitas sawit nasional masih memiliki ruang yang sangat besar untuk terus meningkat, terutama melalui penguatan perkebunan rakyat yang mengelola sekitar 41 persen luas kebun sawit nasional.
Menurutnya, peningkatan produktivitas petani plasma maupun swadaya harus menjadi fokus bersama agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar minyak sawit dunia.
BACA JUGA: Peran dan Akuntabilitas Industri Sawit dan Masyarakat dalam Mitigasi Karhutla
Salah satu langkah strategis yang terus didorong adalah percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Program tersebut dinilai mampu meningkatkan produktivitas kebun rakyat melalui penggunaan benih unggul, penerapan teknologi, serta pendampingan yang berkelanjutan.
Selain itu, Eddy menilai masa depan industri sawit harus dibangun melalui inovasi, transformasi teknologi, mekanisasi, digitalisasi, penguatan riset, dan percepatan hilirisasi agar mampu menghasilkan nilai tambah yang semakin besar bagi perekonomian nasional.
Ia juga menegaskan GAPKI mendukung pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) yang terencana dan sesuai kebutuhan daerah sehingga dapat menciptakan industri yang sehat, efisien, dan berkelanjutan.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Kamis (6/8) Turun Menjadi Rp15.650/kg, Bursa Malaysia Tertekan
Pada sektor energi, Eddy menilai program mandatori biodiesel menjadi salah satu bukti besarnya kontribusi sawit terhadap ketahanan energi nasional.
“Indonesia bukan hanya produsen minyak sawit terbesar di dunia, tetapi juga konsumen terbesar. Karena itu keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor harus terus dijaga,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan aspek keberlanjutan melalui implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) serta berbagai standar internasional sebagai upaya meningkatkan daya saing produk sawit Indonesia di pasar global.
BACA JUGA: GAPKI Perkuat Perlindungan Pekerja Sawit Lewat Workshop Padu Perkasa di Bengkulu
Dalam kesempatan tersebut, Eddy menyampaikan apresiasi kepada pemerintah yang selama ini terus membuka ruang dialog dengan pelaku industri. Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BPDP, perusahaan, dan pekebun menjadi modal utama untuk membangun industri sawit yang semakin modern, produktif, dan berkelanjutan.
Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur beserta pemerintah kabupaten dan kota yang dinilai konsisten mendorong perkembangan sektor perkebunan sawit sebagai penggerak ekonomi daerah.
Menutup sambutannya, Eddy optimistis Indonesia akan tetap menjadi pemain utama industri minyak sawit dunia selama seluruh pemangku kepentingan mampu terus berkolaborasi memperkuat inovasi, meningkatkan produktivitas, serta menjaga keberlanjutan industri.
“Selama kebutuhan dunia terhadap minyak nabati masih ada, sawit akan tetap menjadi komoditas strategis. Dengan inovasi, transformasi, dan kolaborasi yang kuat, saya yakin industri sawit Indonesia akan semakin tangguh, berkelanjutan, dan terus memberikan manfaat besar bagi perekonomian nasional maupun kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (A3)