Kementan Dorong Transformasi Pertanian untuk Perkuat Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani


AGRICOM, PALU — Transformasi pertanian menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Perubahan tersebut tidak hanya dilakukan melalui penerapan teknologi, tetapi juga mencakup modernisasi, penguatan kelembagaan, hilirisasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pertanian.

Hal tersebut disampaikan Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto, saat mewakili Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam kuliah umum di Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu, Kamis (20/8/2026).

Heru mengatakan, modernisasi pertanian perlu didorong melalui inovasi dan digitalisasi agar produktivitas serta efisiensi usaha tani semakin meningkat.

BACA JUGA: Irigasi 2,4 Km Dibangun Kementan, Petani Cirebon Bisa Tanam Saat Kemarau

“Transformasi pertanian harus kita dorong melalui modernisasi, inovasi, dan digitalisasi. Pemanfaatan teknologi menjadi penting untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian,” ujar Heru, dikutip Agricom dari Ditjenbun, Senin (24/8).

Namun, menurutnya, penerapan teknologi harus dibarengi dengan penguatan kelembagaan petani. Kelembagaan yang kuat dinilai penting agar petani memiliki kapasitas dan posisi tawar yang lebih baik dalam menjalankan usaha pertanian.

“Petani harus memiliki kelembagaan yang kuat agar mampu meningkatkan kapasitas, memperkuat posisi tawar, serta berkembang sebagai pelaku usaha pertanian,” katanya.

 BACA JUGA: Kementan Kucurkan Rp55,65 Miliar untuk Kejar Swasembada Bawang Putih

Dorong Hilirisasi

Transformasi pertanian juga perlu diarahkan pada pengembangan hilirisasi. Heru menilai, peningkatan nilai tambah menjadi salah satu kunci agar komoditas pertanian tidak hanya dijual sebagai bahan mentah.

“Kita tidak boleh berhenti pada produksi bahan mentah. Hilirisasi harus didorong agar hasil pertanian memiliki nilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar,” ujarnya.

Dengan hilirisasi, sektor pertanian diharapkan mampu menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan kerja di berbagai daerah.

BACA JUGA: Beasiswa BPDP 2026: INSTIPER dan AKPY Siapkan 1.010 SDM Perkebunan

Selain itu, peningkatan kompetensi SDM menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari transformasi pertanian. Menurut Heru, tenaga pertanian harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan dinamika dunia usaha.

“Kita membutuhkan SDM pertanian yang kompeten, adaptif, dan mampu mengikuti perkembangan teknologi serta perubahan dunia usaha,” kata Heru.

 BACA JUGA: Mentan Amran dan UNESA Bangun Sentra Benih Kedelai, Targetkan Produktivitas hingga 5 Ton per Hektare

Ubah Mindset Pertanian

Heru juga menekankan perlunya perubahan pola pikir dalam pembangunan pertanian nasional. Indonesia, kata dia, harus memiliki orientasi yang lebih kuat untuk menghasilkan produk pertanian yang mampu bersaing di pasar internasional.

“Kita harus mengubah mindset dari negara pengimpor menjadi negara pengekspor. Pertanian Indonesia harus mampu menghasilkan produk yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga berdaya saing di pasar global,” ujarnya.

BACA JUGA: Kementan Luncurkan Program NBS-Agroforestry, Perkuat Perkebunan Berkelanjutan Hadapi Perubahan Iklim

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada kesempatan berbeda mengingatkan pentingnya ketekunan dan keteguhan dalam meraih keberhasilan. Ia mengibaratkan manusia seperti berlian yang membutuhkan proses dan tekanan sebelum memiliki nilai yang tinggi.

Semangat tersebut sejalan dengan agenda transformasi pertanian nasional yang membutuhkan proses berkelanjutan, inovasi, serta kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan petani.

Dengan transformasi yang berjalan secara konsisten, sektor pertanian diharapkan semakin modern, produktif, berdaya saing, sekaligus mampu menjadi sumber peningkatan kesejahteraan bagi petani. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP