AGRICOM, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup mayoritas menguat pada perdagangan Kamis (30/7/2026), didorong oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap prospek ekspor minyak sawit Malaysia yang diperkirakan mencatat pertumbuhan sepanjang Juli.
Pelaku pasar menilai peningkatan kinerja ekspor menjadi sentimen positif yang menopang pergerakan harga kontrak berjangka. Prospek permintaan yang tetap kuat memperkuat keyakinan investor bahwa konsumsi global minyak sawit masih solid di tengah persaingan dengan minyak nabati lainnya.
Dilansir dari Bernama, pada penutupan perdagangan, kontrak CPO Agustus 2026 turun tipis RM3 menjadi RM4.554 per ton. Sementara itu, kontrak September 2026 naik RM15 ke level RM4.643 per ton.
BACA JUGA: Bursa Malaysia Tertekan Dua Hari Beruntun, Harga CPO Turun ke RM4.646 per Ton
Penguatan berlanjut pada kontrak Oktober 2026 yang naik RM19 menjadi RM4.683 per ton, disusul kontrak November 2026 yang juga meningkat RM19 menjadi RM4.714 per ton. Kontrak Desember 2026 ditutup naik RM19 ke RM4.743 per ton, sedangkan kontrak Januari 2027 menguat RM17 menjadi RM4.770 per ton.
Meski mayoritas kontrak mencatat kenaikan harga, aktivitas perdagangan justru sedikit melambat. Volume transaksi turun menjadi 67.530 lot, dibandingkan 77.694 lot pada sesi sebelumnya. Posisi open interest juga terkoreksi tipis menjadi 302.397 kontrak, dari sebelumnya 302.561 kontrak, mencerminkan sebagian pelaku pasar mulai melakukan penyesuaian posisi.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Terkoreksi ke Rp15.750/Kg, Bursa Malaysia Menguat Ditopang Optimisme Ekspor
Di pasar fisik, harga CPO untuk pengiriman Agustus di wilayah Malaysia Selatan turun RM10 menjadi RM4.550 per ton, menunjukkan pasar spot masih bergerak lebih hati-hati dibandingkan kontrak berjangka.
Sementara itu, di pasar domestik Indonesia, harga CPO yang ditetapkan melalui tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom mengalami koreksi. Harga Franco Dumai ditetapkan sebesar Rp15.750/kg, turun Rp50/kg atau sekitar 0,32% dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya yang mencapai Rp15.800/kg.
BACA JUGA: ESDM Resmikan Alokasi Biodiesel B50 2026, Kontrak Badan Usaha Segera Dimulai
Perbedaan arah pergerakan antara pasar Indonesia dan Malaysia mencerminkan dinamika yang berbeda. Bursa Malaysia memperoleh dukungan dari ekspektasi ekspor yang lebih kuat, sementara pasar domestik Indonesia masih dibayangi lemahnya minat transaksi di sejumlah tender dan penyesuaian harga oleh pelaku pasar. (A3)