Dok. Agricom/Harga kontrak CPO di Bursa Malaysia turun 0,52% menjadi RM4.577 per ton pada Kamis (16/7/2026), sementara harga CPO di tender KPBN Indonesia justru naik 0,39% menjadi Rp15.650/kg, mencerminkan perbedaan sentimen antara pasar global dan domestik.
PALMOILMAGAZINE, JAKARTA – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali ditutup melemah pada perdagangan Kamis (16/7/2026), memperpanjang tren penurunan menjadi dua sesi berturut-turut.
Pelemahan dipicu oleh tekanan dari turunnya harga minyak nabati di bursa Chicago dan Dalian, serta menguatnya nilai tukar ringgit Malaysia yang mengurangi daya saing ekspor minyak sawit.
Mengutip Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Oktober 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (BMD) turun RM42 per ton, atau sekitar 0,52%, menjadi RM4.577 per metrik ton (setara US$1.124,29) pada pukul 02.40 GMT.
Tekanan terhadap harga juga dipengaruhi oleh sentimen di pasar minyak nabati global. Pelemahan kontrak minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) serta penurunan harga minyak nabati di Bursa Dalian turut membebani pergerakan harga CPO Malaysia. Di sisi lain, penguatan ringgit membuat harga minyak sawit menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Berbeda dengan pergerakan di Bursa Malaysia, harga CPO di pasar domestik Indonesia justru menunjukkan penguatan.
Berdasarkan hasil tender yang diperoleh Agricom.id dari PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada Kamis (16/7/2026), harga CPO ditetapkan sebesar Rp15.650 per kilogram. Angka tersebut naik Rp61/kg atau sekitar 0,39% dibandingkan penawaran tertinggi pada Rabu (15/7/2026) yang tercatat Rp15.589/kg.
BACA JUGA: SNV Dorong Aksi Nyata Pertanian Regeneratif Lewat Impact Forum 2026
Kenaikan harga di tender KPBN mengindikasikan pasar domestik masih ditopang permintaan yang cukup kuat, meski sentimen global masih cenderung negatif akibat tekanan di pasar minyak nabati internasional dan pergerakan nilai tukar. (A3)