Harga Sawit Malaysia Masih Tertekan, Stok Membengkak Akibat Produksi Tinggi

Harga Sawit Malaysia Masih Tertekan, Stok Membengkak Akibat Produksi Tinggi
Agricom.id

13 January 2026 , 07:56 WIB

Kontrak berjangka minyak sawit di Bursa Malaysia diperkirakan masih bergerak di bawah tekanan setelah produksi yang lebih tinggi dari perkiraan mendorong lonjakan stok, dengan persediaan Malaysia diproyeksikan menembus 3 juta ton. Foto: Agricom

 

AGRICOM, JAKARTA — Pergerakan harga kontrak berjangka minyak sawit di Bursa Malaysia diperkirakan masih berada di bawah tekanan dalam waktu dekat. Kinerja pasar yang lemah ini dipicu oleh produksi yang bertahan lebih tinggi dari perkiraan, khususnya di Malaysia, sehingga mendorong penumpukan stok di pasar global.

Mengutip laporan Reuters, analis industri minyak nabati Dorab Mistry menilai bahwa pasokan yang melimpah menjadi faktor utama yang menahan laju pemulihan harga.

BACA JUGA: 

- Harga CPO Bursa Malaysia Melemah di Akhir Pekan, Kinerja Mingguan Tetap Positif 

- Harga CPO KPBN Inacom Senin (12/1) Turun Tipis Menjadi Rp 14.401 per Kg

Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Maret di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (BMD) ditutup pada level 4.043 ringgit per ton pada perdagangan Jumat lalu. Level tersebut tercapai setelah harga sempat menyentuh posisi terendah dalam lebih dari enam bulan pada Desember 2025.

“Kontrak berjangka sawit di BMD sedang berada di bawah tekanan. Investor dana sudah keluar dari pasar, dan pelemahan ini kemungkinan bertahan sampai produksi benar-benar menurun,” ujar Mistry dalam sebuah konferensi industri di Karachi, Pakistan, Sabtu.

Sebelumnya, pada November lalu Mistry sempat memperkirakan harga minyak sawit berpotensi melonjak hingga 5.500 ringgit per ton pada periode Januari–Maret. Proyeksi optimistis tersebut didasarkan pada asumsi bahwa Indonesia akan mengambil alih lebih banyak perkebunan sawit dan bergerak menuju implementasi mandatori biodiesel B50.

BACA JUGA: Harga Referensi Minyak Sawit (CPO) Periode Januari 2026 Turun ke USD 915,64 per Ton

Namun, seiring perkembangan terbaru, pandangan tersebut berubah. Mistry mengungkapkan bahwa produksi minyak sawit global justru meningkat sekitar 1 juta ton lebih tinggi dari perkiraan awal. Pada saat yang sama, persediaan melonjak dan permintaan biofuel dinilai mengecewakan, terutama dari Amerika Serikat.

Di Malaysia, yang merupakan produsen minyak sawit terbesar kedua dunia, stok minyak sawit kini diperkirakan akan menembus 3 juta ton metrik. Angka ini jauh melampaui proyeksi sebelumnya di kisaran 2 juta ton, seiring produksi yang tetap kuat sejak Oktober.

Kondisi ini membuat pelaku pasar masih bersikap hati-hati, sembari menanti sinyal pelemahan produksi atau pemulihan permintaan global yang dapat kembali menopang pergerakan harga minyak sawit. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP