Harga Karet Global Minggu Pertama Maret 2026 Anjlok 4,45 Persen Akibat Ketidakpastian Ekonomi dan Ketegangan Geopolitik

Harga Karet Global Minggu Pertama Maret 2026 Anjlok 4,45 Persen Akibat Ketidakpastian Ekonomi dan Ketegangan Geopolitik
Agricom.id

09 March 2026 , 00:25 WIB

AGRICOM, JAKARTA – Harga karet global yang diperdagangkan di bursa SGX–Sicom menunjukkan tren koreksi bertahap hingga 4,45% sepanjang pekan pertama Maret 2026. Setelah sempat berada di atas level Rp 34 ribu per kilogram pada awal pekan, harga kemudian melemah secara perlahan hingga akhir pekan di kisaran Rp 32.629/kg.

Pergerakan ini mencerminkan fase konsolidasi pasar setelah sebelumnya mengalami penguatan dalam waktu singkat.

Berdasarkan rekap perdagangan karet SGX–Sicom pada periode 2–6 Maret 2026, harga karet tercatat mulai dari Rp 34.150/kg pada Senin (2/3/2026). Selanjutnya harga turun menjadi Rp 33.760/kg pada Selasa (3/3/2026) dan kembali melemah menjadi Rp 33.420/kg pada Rabu (4/3/2026).

BACA JUGA: 

- Harga Karet SGX–Sicom Jumat (6/3) Turun Lagi, Tertinggi Rp 33.629 per Kg

- Harga Karet Global Turun Lagi Pada Kamis (5/3), SGX Sicom Terkoreksi ke Rp 33.219 per Kg

Tekanan harga berlanjut pada Kamis (5/3/2026) dengan posisi Rp 33.219/kg, sebelum akhirnya turun lebih dalam pada Jumat (6/3/2026) menjadi Rp 32.629/kg.

Menurut Rudi Arpian, Sekretaris DPW APKARINDO SUMSEL, secara ekonomi penurunan harga karet pada akhir pekan ini tidak hanya dipengaruhi faktor teknis perdagangan, tetapi juga dipicu meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

“Salah satu pemicunya adalah eskalasi ketegangan geopolitik dunia, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah,” kata Rudi, dalam keterangan yang diperoleh Agricom.id, Minggu 8 maret 2026.

BACA JUGA: Didorong Lonjakan Akhir Bulan, Harga Karet Februari Menguat 7,9 Persen

 Lebih lanjut Rudi menjelaskan, dalam pasar komoditas global, konflik geopolitik biasanya memengaruhi harga melalui sejumlah jalur utama.

Pertama, meningkatnya ketidakpastian ekonomi global membuat investor dan pelaku industri cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis. Kondisi ini berpotensi memperlambat aktivitas sektor industri, termasuk otomotif dan manufaktur yang merupakan pengguna utama karet alam.

Kedua, konflik di kawasan Timur Tengah sering memicu kenaikan harga minyak dunia. Ketika harga energi meningkat, biaya produksi industri turut naik dan berpotensi menekan permintaan bahan baku, termasuk karet.

BACA JUGA: APKARINDO Tagih Janji Mentan: Replanting dan Hilirisasi Aspal Karet Jangan Berhenti di Wacana

Selain itu, pelemahan harga juga dipengaruhi oleh aksi ambil untung (profit taking) oleh pelaku pasar setelah harga karet sempat menguat pada awal pekan. Dalam situasi global yang tidak stabil, investor cenderung mengurangi eksposur pada komoditas yang dinilai lebih berisiko.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah penguatan dolar Amerika Serikat. Dalam kondisi geopolitik yang bergejolak, dolar biasanya menguat karena dianggap sebagai aset safe haven. Penguatan mata uang tersebut sering memberikan tekanan tambahan terhadap harga komoditas di pasar internasional.

Secara keseluruhan, pergerakan harga karet selama pekan ini menunjukkan bahwa pasar global sedang berada dalam fase konsolidasi, yakni proses penyesuaian harga setelah mengalami fluktuasi yang cukup cepat.

Kondisi ini dinilai sebagai dinamika yang wajar dalam perdagangan komoditas global sebelum pasar menentukan arah tren berikutnya. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP