Dok. Agricom/ Harga CPO di Bursa Malaysia kembali menguat pada perdagangan Rabu (10/6/2026) setelah didukung membaiknya prospek ekspor dan penurunan produksi minyak sawit Malaysia selama Mei 2026.
AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali mencatat penguatan pada perdagangan Rabu (10/6/2026), setelah sebelumnya mengalami tekanan. Sentimen positif datang dari membaiknya prospek ekspor serta menurunnya produksi minyak sawit Malaysia selama Mei 2026.
Kontrak berjangka CPO acuan untuk pengiriman Agustus 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup naik RM11 per ton atau sekitar 0,24 persen menjadi RM4.539 per ton. Kenaikan tersebut mencerminkan kembali menguatnya optimisme pelaku pasar terhadap prospek fundamental industri sawit dalam jangka pendek.
BACA JUGA: Ekspor Melemah Tekan Pasar, Harga CPO Malaysia Turun 1,68%
Pelaku pasar menilai kombinasi peningkatan permintaan ekspor dan berkurangnya pasokan menjadi faktor utama yang menopang harga. Data terbaru dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan produksi minyak sawit Malaysia pada Mei 2026 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan produksi tersebut membantu mengurangi tekanan pasokan di pasar, sehingga memberikan dukungan terhadap pergerakan harga CPO. Namun demikian, MPOB juga melaporkan bahwa stok minyak sawit Malaysia pada Mei meningkat untuk bulan kedua secara berturut-turut.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Selasa (9/6) Turun ke Rp15.155/Kg, Bursa Malaysia Tertekan Pelemahan Ekspor
Kenaikan persediaan terjadi karena penurunan ekspor pada periode tersebut lebih besar dibandingkan penurunan produksi. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun produksi berkurang, pasokan domestik masih cukup untuk mendorong kenaikan inventori.
Meski demikian, pasar mulai melihat tanda-tanda perbaikan permintaan dari pasar global. Berdasarkan survei perusahaan kargo, ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1–10 Juni 2026 diperkirakan meningkat antara 3,5 persen hingga 4,9 persen dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.
Peningkatan ekspor tersebut menjadi sinyal positif bahwa permintaan internasional mulai pulih, terutama dari negara-negara konsumen utama minyak sawit. Prospek ekspor yang lebih baik diperkirakan dapat membantu mengurangi tekanan stok dalam beberapa bulan mendatang.
Di pasar domestik Indonesia, harga CPO yang ditetapkan PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada Rabu (10/6/2026) tercatat sebesar Rp15.225 per kilogram. Harga tersebut naik Rp70 per kilogram atau sekitar 0,46 persen dibandingkan perdagangan Selasa (9/6/2026) yang berada di level Rp15.155 per kilogram.
Kenaikan harga KPBN sejalan dengan penguatan yang terjadi di Bursa Malaysia, yang selama ini menjadi salah satu acuan utama perdagangan minyak sawit global.
Sementara itu, pergerakan minyak nabati pesaing justru cenderung melemah. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian turun 0,05 persen, sedangkan kontrak minyak sawit Dalian terkoreksi 0,13 persen.
Di pasar Amerika Serikat, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) juga bergerak turun tipis sebesar 0,01 persen. Kondisi tersebut membuat minyak sawit kembali memperoleh daya saing yang lebih baik di pasar minyak nabati global.
Dengan dukungan prospek ekspor yang membaik serta pasokan yang lebih ketat akibat turunnya produksi, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan data ekspor dan persediaan dalam beberapa pekan mendatang sebagai penentu arah harga CPO selanjutnya. (A3)