Dok Agricom/ Harga CPO di Bursa Malaysia kembali melemah pada perdagangan Selasa (9/6/2026) setelah data ekspor menunjukkan perlambatan permintaan. Pelaku pasar kini menanti laporan MPOB yang akan menjadi penentu arah harga dalam jangka pendek.
AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali melemah pada perdagangan Selasa (9/6/2026), setelah sehari sebelumnya mencatat penguatan. Tekanan utama datang dari melemahnya permintaan ekspor yang masih membayangi pasar, meskipun terdapat sinyal awal pemulihan produksi pada Juni.
Berdasarkan laporan Reuters, kontrak berjangka CPO acuan untuk pengiriman Agustus 2026 di Bursa Malaysia Derivatives turun RM77 per ton atau sekitar 1,68% menjadi RM4.498 per ton pada jeda perdagangan siang. Koreksi tersebut mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar terhadap prospek permintaan global minyak nabati dalam beberapa pekan ke depan.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Menguat Didorong Minyak Mentah dan Kedelai
Sentimen negatif juga dipicu oleh data perusahaan survei kargo yang menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia sepanjang Mei 2026 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ekspor diperkirakan berada pada kisaran 8,8% hingga 15,5% secara bulanan, mengindikasikan belum pulihnya permintaan dari pasar utama.
Di tengah kondisi tersebut, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada laporan pasokan dan permintaan minyak sawit bulanan dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (10/6/2026). Laporan tersebut dipandang sebagai indikator penting yang akan memberikan gambaran mengenai tingkat produksi, stok, dan ekspor Malaysia, sekaligus menjadi acuan arah pergerakan harga CPO dalam jangka pendek.
Sementara itu, harga CPO di pasar domestik Indonesia juga mengalami koreksi tipis. Berdasarkan hasil tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), harga CPO pada Selasa (9/6/2026) ditetapkan sebesar Rp15.155 per kilogram.
Dengan demikian, harga CPO KPBN turun Rp20 per kilogram atau sekitar 0,13% dibandingkan posisi Senin (8/6/2026) yang tercatat sebesar Rp15.175 per kilogram. Penurunan tersebut relatif terbatas dibandingkan koreksi yang terjadi di pasar berjangka Malaysia.
BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Selasa (9/6) Turun Rp656/Kg, Masih Bertahan di Atas Rp40 Ribu/Kg
Pergerakan negatif juga terjadi di pasar minyak nabati global lainnya. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian, Tiongkok, turun 0,98%, sedangkan kontrak minyak sawit Dalian melemah 1,27%.
Di Amerika Serikat, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) turut terkoreksi sebesar 0,63%, menunjukkan sentimen bearish yang masih mendominasi pasar minyak nabati dunia.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Periode 3–9 Juni 2026 Turun Tipis, Tertinggi di Rp3.832,61 Per Kg
Analis menilai arah pasar dalam beberapa hari mendatang akan sangat bergantung pada data MPOB. Jika laporan menunjukkan peningkatan produksi yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan permintaan, harga CPO berpotensi tetap berada dalam tekanan. Sebaliknya, apabila stok minyak sawit Malaysia turun lebih dalam dari perkiraan pasar, harga berpeluang memperoleh dukungan untuk kembali menguat.
Dengan lemahnya ekspor dan pasar minyak nabati global yang bergerak negatif, pelaku industri saat ini cenderung menunggu kepastian data fundamental sebelum mengambil posisi baru di pasar CPO. (A3)