Dok. Agricom/ Harga CPO KPBN terkoreksi tipis pada Selasa (9/6/2026) seiring pelemahan pasar sawit global. Di Bursa Malaysia, harga CPO turun 1,68% akibat lesunya permintaan ekspor dan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar menjelang rilis data MPOB.
AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar domestik kembali melemah tipis pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Berdasarkan hasil tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), harga CPO ditetapkan sebesar Rp15.155 per kilogram, turun Rp20 per kilogram atau sekitar 0,13% dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang mencapai Rp15.175 per kilogram.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Agricom.id dari KPBN menunjukkan harga CPO Franco Kuala Tanjung dan Dumai ditetapkan sebesar Rp15.155 per kilogram. Sementara itu, harga CPO Franco Teluk Bayur berada di level Rp15.025 per kilogram, harga CPO FOB Talang Duku sebesar Rp14.955 per kilogram, dan harga CPO loco Parindu ditetapkan Rp14.805 per kilogram.
Selain CPO, tender produk turunan sawit juga menunjukkan aktivitas yang terbatas. Untuk Crude Palm Kernel Oil (CPKO), tender Franco Dumai ditetapkan sebesar Rp28.148/Kg namun berstatus withdrawn (WD), dengan penawaran tertinggi tercatat Rp25.300/Kg. Sementara itu, tender FOB Lampung ditetapkan Rp28.074/Kg (WD) dengan penawaran tertinggi Rp20.000/Kg.
Untuk komoditas Palm Kernel (PK), tender Franco Belawan ditetapkan sebesar Rp13.147/Kg dan juga berstatus withdrawn (WD). Penawaran tertinggi yang masuk tercatat sebesar Rp12.560/Kg.
BACA JUGA: Ekspor Melemah Tekan Pasar, Harga CPO Malaysia Turun 1,68%
Pelemahan harga di dalam negeri sejalan dengan pergerakan pasar sawit global. Di Bursa Malaysia Derivatives, kontrak berjangka CPO acuan untuk pengiriman Agustus 2026 tercatat turun RM77 per ton atau sekitar 1,68% menjadi RM4.498 per ton pada jeda perdagangan siang.
Menurut laporan Reuters, penurunan harga dipicu oleh masih lemahnya permintaan ekspor yang membebani sentimen pasar. Kondisi tersebut terjadi meskipun terdapat indikasi awal peningkatan produksi minyak sawit Malaysia pada Juni 2026.
Tekanan juga datang dari data perusahaan survei kargo yang menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia selama Mei 2026 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ekspor diperkirakan berada pada kisaran 8,8% hingga 15,5% secara bulanan, menandakan permintaan dari pasar internasional masih belum pulih sepenuhnya.
Pelaku pasar kini menantikan laporan bulanan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (10/6/2026). Laporan tersebut akan memuat data produksi, stok, dan ekspor minyak sawit Malaysia yang diperkirakan menjadi faktor penentu arah harga CPO dalam jangka pendek.
BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Selasa (9/6) Turun Rp656/Kg, Masih Bertahan di Atas Rp40 Ribu/Kg
Di pasar minyak nabati lainnya, sentimen negatif juga mendominasi. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian, Tiongkok, tercatat turun 0,98%, sementara kontrak minyak sawit Dalian melemah 1,27%. Di Amerika Serikat, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) turut terkoreksi sebesar 0,63%.
Pasar kini menunggu hasil laporan MPOB untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai keseimbangan pasokan dan permintaan minyak sawit global. Jika data menunjukkan peningkatan stok yang signifikan, harga CPO berpotensi tetap berada dalam tekanan. Namun, apabila stok turun di bawah ekspektasi pasar, harga berpeluang mendapatkan sentimen positif dalam beberapa hari mendatang. (A3)