Kementan Catat Harga Pakan Turun, Peternak Berpeluang Hemat Biaya Produksi

Kementan Catat Harga Pakan Turun, Peternak Berpeluang Hemat Biaya Produksi
Ilustrasi. Foto: Istimewa

09 March 2026 , 15:58 WIB

AGRICOM, JAKARTA – Kementerian Pertanian mencatat adanya penurunan harga beberapa jenis pakan ternak di tingkat produsen sepanjang periode Februari hingga awal Maret 2026. Perkembangan ini dinilai memberikan peluang bagi peternak untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi, mengingat pakan menyumbang sekitar 60–70 persen dari total biaya dalam usaha peternakan unggas.

Data pemantauan melalui Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) Direktorat Pakan Kementerian Pertanian menunjukkan tren penurunan harga terjadi pada berbagai jenis pakan yang digunakan dalam budidaya ayam pedaging maupun ayam petelur.

Untuk pakan ayam pedaging fase starter (BR1), harga tercatat turun rata-rata Rp112 per kilogram dari 33 pabrik pakan, dengan rata-rata harga produsen sekitar Rp8.010 per kilogram. Sementara itu, pakan broiler fase pre starter (BR0) mengalami penurunan rata-rata Rp82 per kilogram dari 30 pabrik pakan, dengan rata-rata harga produsen sekitar Rp8.451 per kilogram.

BACA JUGA: 

- Bulog Ekspor 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi untuk Jemaah Haji 1447 H

- Syngenta Indonesia Luncurkan Buku Pintar Budidaya Sayuran Guna Tingkatkan Produktivitas Petani Hortikultura

Penurunan harga juga terjadi pada pakan broiler fase finisher (BR2), yang turun rata-rata Rp89 per kilogram dari 31 pabrik pakan, dengan rata-rata harga produsen sekitar Rp7.967 per kilogram.

Pada segmen pakan ayam petelur, harga pakan layer masa produksi (P3) tercatat turun rata-rata Rp86 per kilogram dari 32 pabrik pakan dengan rata-rata harga produsen sekitar Rp6.803 per kilogram. Selain itu, konsentrat layer masa produksi (KP3) juga mengalami penurunan rata-rata Rp74 per kilogram dari 14 pabrik pakan, dengan rata-rata harga produsen sekitar Rp7.735 per kilogram.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyatakan bahwa tren penurunan harga pakan menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional. Menurutnya, karena pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan unggas, setiap penurunan harga akan berdampak langsung terhadap efisiensi produksi di tingkat peternak.

BACA JUGA: Tembus Pasar Prancis, Kakao Fermentasi Berau Kian Dilirik Industri Premium

“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena dapat membantu menekan biaya produksi. Jika biaya produksi semakin efisien, usaha peternakan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan pada akhirnya turut menjaga stabilitas harga ayam dan telur di tingkat konsumen,” ujar Agung di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Meski demikian, Agung mencatat bahwa penyesuaian harga pakan saat ini masih dilakukan oleh sebagian produsen. Dari sekitar 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, sekitar 33 pabrik atau sekitar 38 persen telah menurunkan harga.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian, kami terus memantau perkembangan harga melalui sistem SPORA serta berkomunikasi dengan industri pakan. Penyesuaian harga ini merupakan langkah positif yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi peternak,” katanya.

Kementerian Pertanian juga mendorong pabrik pakan lainnya untuk melakukan penyesuaian harga agar manfaat penurunan biaya produksi dapat dirasakan lebih luas oleh peternak di berbagai daerah.

Sementara itu, Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo menyatakan bahwa industri pakan terus melakukan berbagai langkah efisiensi untuk menjaga harga pakan tetap kompetitif.

“Industri pakan berupaya melakukan penyesuaian agar harga pakan semakin kompetitif. Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang efisien sehingga dapat mendukung keberlanjutan usaha peternakan nasional,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus memperkuat produksi jagung nasional sebagai bahan baku utama pakan ternak. Upaya ini dilakukan untuk menjaga pasokan bahan baku sekaligus menekan biaya produksi peternak.

“Tidak ada impor jagung khusus pakan. Bahkan kita sudah ekspor, seperti dari Kalimantan Barat ke Malaysia, juga ke Filipina, serta dari NTB dan Gorontalo. Bahkan Bapak Presiden melepas langsung ekspor tersebut,” ujar Amran dalam Panen Raya Jagung di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, 8 Januari 2026.

Penguatan produksi jagung nasional tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan, meningkatkan efisiensi biaya produksi peternakan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. (A3)

Sumber: Kementan

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP