Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memulai rehabilitasi lahan sawah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan target pemulihan puluhan ribu hektare untuk mempercepat kembalinya produksi pangan dan melindungi mata pencaharian petani. Foto: Istimewa
AGRICOM, LHOKSEUMAWE, ACEH — Pemerintah resmi memulai tahap rehabilitasi lahan sawah pascabencana di sejumlah wilayah Sumatera. Kick-off program ini ditandai dengan groundbreaking rehabilitasi sawah terdampak bencana yang dilakukan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Lhokseumawe, Aceh, Kamis (15/1/2026).
Program rehabilitasi mencakup perbaikan lahan sawah, jaringan irigasi, serta pemulihan sarana dan prasarana produksi pertanian agar petani dapat segera kembali menanam dan berproduksi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, pemulihan sektor pertanian pascabencana merupakan kewajiban negara.
BACA JUGA: Dorong Pemulihan Pertanian Sumatera, Kementan Siapkan Rp1,49 T dan Usulkan Tambahan Rp5,1 T
“Pemulihan ini adalah tanggung jawab negara. Itu tugas kami sebagai Menteri Pertanian dan juga sebagai Kepala Badan Pangan Nasional,” tegas Amran, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Jumat (16/1).
Ia menjelaskan, sejak bencana melanda sejumlah wilayah Sumatera pada akhir November 2025, Kementerian Pertanian langsung bergerak melakukan penanganan darurat. Begitu laporan masuk, seluruh jajaran diminta turun tangan.
“Begitu terdengar ada bencana, kami langsung bergerak. Seluruh pegawai dan mitra kami minta ikut berkontribusi membantu saudara-saudara kita di Sumatera,” ujarnya.
BACA JUGA: GAPKI dan PPKS Bekali Delegasi Tanzania Manajemen Perkebunan Sawit
Dari gerakan solidaritas internal tersebut, terkumpul donasi sekitar Rp75 miliar yang berasal dari gaji pegawai dan sedekah keluarga besar Kementerian Pertanian, termasuk dukungan Komisi IV DPR RI. Selain itu, Kementan juga menyalurkan bantuan pangan skala besar sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Arahan Presiden jelas: kirim bantuan, jangan menunggu surat. Itu tanggung jawab negara,” kata Amran.
98.002 Hektare Sawah Terdampak
Memasuki fase pemulihan, Kementerian Pertanian mencatat total lahan sawah terdampak bencana di tiga provinsi—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—mencapai 98.002 hektare.
Aceh menjadi wilayah dengan dampak terluas, yakni 54.233 hektare di 21 kabupaten/kota. Disusul Sumatera Utara 37.318 hektare di 15 kabupaten/kota, dan Sumatera Barat 6.451 hektare di 14 kabupaten/kota.
Dari total tersebut, kerusakan kategori ringan hingga sedang mencapai 69.240 hektare, terdiri atas kerusakan ringan 48.969 hektare dan kerusakan sedang 20.271 hektare. Rinciannya: Aceh 32.652 hektare, Sumatera Utara 32.964 hektare, dan Sumatera Barat 3.624 hektare.
Khusus Kabupaten Aceh Utara, luas sawah rusak ringan–sedang tercatat 8.237 hektare, terdiri dari kerusakan ringan 5.950 hektare dan sedang 2.287 hektare.
BACA JUGA: Menko Airlangga: Program Biodiesel 2026 Bertahan di B40, Transisi ke B50 Dimatangkan
Fokus Awal: Kerusakan Ringan dan Sedang
Kementerian Pertanian memprioritaskan rehabilitasi pada sawah dengan tingkat kerusakan ringan dan sedang. Tahap awal ditargetkan berlangsung Januari–Februari 2026, dengan target rehabilitasi 13.708 hektare di tiga provinsi.
Target tersebut meliputi Aceh 6.530 hektare, Sumatera Utara 6.593 hektare, dan Sumatera Barat 3.624 hektare.
“Kami mulai dari yang ringan dan sedang. Sekitar 90 sampai 95 persen akan kami tuntaskan lebih dulu sebelum masuk ke kategori berat,” jelas Amran.
Di Aceh, rehabilitasi dilakukan dengan skema padat karya, agar petani terdampak tetap memperoleh penghasilan selama proses pemulihan.
“Yang mengerjakan adalah rakyat sendiri, pemilik sawahnya. Upahnya dibayar pemerintah pusat. Mereka membangun kembali lahannya sendiri,” ujarnya.
Anggaran dan Bentuk Rehabilitasi
Dari sisi pembiayaan, Kementan telah menyiapkan anggaran rehabilitasi lahan sawah nasional seluas 10.000 hektare senilai Rp148,53 miliar. Anggaran ini direvisi untuk mendukung rehabilitasi lahan rusak sedang di wilayah terdampak bencana.
Selain itu, tersedia anggaran Rp310 miliar dari program optimasi lahan di tiga provinsi untuk menangani sawah dengan kerusakan ringan.
Kegiatan rehabilitasi meliputi perbaikan pematang, normalisasi saluran irigasi tersier, primer, dan sekunder, perbaikan bangunan irigasi seperti pintu air dan box bagi, serta pengolahan kembali lahan.
Sebagai bagian dari dukungan pemulihan, Kementan juga menyalurkan berbagai bantuan sarana produksi, mulai dari benih, pupuk, alat dan mesin pertanian, hingga bantuan sembako.
“Kami berjanji kepada pemerintah daerah, dan janji itu kami penuhi. Bantuan sudah dikirim, traktor sudah dikirim,” pungkas Amran. (A3)