Harga CPO Malaysia Naik, Pasar Respon Prospek Biodiesel AS dan Penurunan Produksi

Harga CPO Malaysia Naik, Pasar Respon Prospek Biodiesel AS dan Penurunan Produksi
Agricom.id

23 January 2026 , 14:00 WIB

Harga CPO di Bursa Malaysia menguat seiring ekspektasi meningkatnya permintaan biodiesel dari Amerika Serikat dan kekhawatiran potensi penurunan produksi yang menjaga sentimen pasar tetap positif. Foto: Agricom

 

AGRICOM, KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia bergerak menguat pada perdagangan Kamis (22/1/2026). Sentimen positif pasar didorong oleh kekhawatiran potensi penurunan produksi di tengah permintaan yang masih solid, serta meningkatnya ekspektasi penggunaan CPO sebagai bahan baku biodiesel setelah Amerika Serikat diperkirakan segera merilis aturan final terkait kebijakan biofuel.

Mengutip laporan Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman April 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tercatat naik RM36 per ton atau sekitar 0,87% menjadi RM4.190 per ton pada jeda perdagangan siang, setara dengan US$1.036,10 per ton.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Menguat, Pasar Antisipasi Lonjakan Permintaan Imlek

Pelaku pasar menilai, kombinasi faktor pasokan dan prospek permintaan energi menjadi pendorong utama penguatan harga. Risiko gangguan produksi di sejumlah wilayah produsen, bersamaan dengan sinyal meningkatnya kebutuhan minyak nabati untuk campuran biodiesel, membuat pasar kembali bersikap lebih agresif dalam memburu kontrak CPO.

Sejalan dengan pergerakan di Malaysia, bursa minyak nabati global juga mencatat penguatan. Di Bursa Dalian, China, kontrak minyak kedelai paling aktif naik sekitar 0,8%, sementara kontrak minyak sawit menguat lebih tinggi sebesar 1,39%. Di sisi lain, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) tercatat bergerak naik tipis sekitar 0,04%.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Kamis (22/1) Naik lagi, Tertinggi Rp 14.825 per Kg

Analis pasar menilai, penguatan serempak minyak nabati mencerminkan sentimen yang masih konstruktif terhadap sektor ini. Selain faktor musiman dan cuaca yang memengaruhi produksi, pasar juga terus mencermati arah kebijakan energi global, khususnya di Amerika Serikat, yang berpotensi memperluas penggunaan minyak nabati dalam bauran bahan bakar.

Dengan kondisi tersebut, harga CPO diperkirakan masih berpeluang bertahan di jalur penguatan dalam jangka pendek, sepanjang tidak muncul tekanan baru dari sisi makroekonomi global maupun lonjakan tajam pasokan. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP