Bangkitkan Kelapa Nasional, Kementan Fokus Replanting Kebun Rakyat dan Percepat Hilirisasi

Bangkitkan Kelapa Nasional, Kementan Fokus Replanting Kebun Rakyat dan Percepat Hilirisasi
Agricom.id

23 January 2026 , 14:20 WIB

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, stagnasi produktivitas kelapa selama bertahun-tahun tidak bisa diatasi tanpa pembaruan kebun secara menyeluruh. Foto: Agricom

 

AGRICOM, JAKARTA — Pemerintah mulai menata ulang arah pengembangan komoditas kelapa nasional dengan membenahi sektor hulunya terlebih dahulu. Kementerian Pertanian (Kementan) menempatkan peremajaan atau replanting kebun kelapa rakyat sebagai fondasi utama, sebelum melangkah lebih agresif ke penguatan hilirisasi dan industri pengolahan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, stagnasi produktivitas kelapa selama bertahun-tahun tidak bisa diatasi tanpa pembaruan kebun secara menyeluruh. Tanaman tua, rusak, dan minim perawatan dinilai menjadi penyebab utama rendahnya hasil yang akhirnya membebani petani.

BACA JUGA: Jelang Ramadhan–Idul Fitri, Mentan Amran Tegaskan Harga Pangan Harus Stabil

“Kelapa adalah komoditas rakyat yang melibatkan jutaan keluarga petani. Kalau kebunnya tidak produktif, hilirisasi tidak akan berjalan optimal. Fondasinya harus dibenahi dulu, lalu dikembangkan terintegrasi dari hulu sampai hilir agar memberi nilai tambah nyata,” ujar Mentan Amran, dikutip Agricom.id dari keterangan resmi Kementan, Jumat (23/1).

Saat ini, produktivitas kelapa nasional masih bertahan di kisaran 1,1 ton kopra per hektare per tahun. Di sisi lain, luas areal cenderung menurun, banyak tanaman telah melewati usia produktif, ketersediaan benih unggul terbatas, serta penerapan Good Agricultural Practices (GAP) belum merata. Rantai pasok yang panjang juga memperlemah posisi tawar petani di tingkat pasar.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Abdul Roni Angkat mengatakan, pemerintah telah menyiapkan kebijakan pengembangan kelapa secara komprehensif dengan peremajaan sebagai prioritas.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Kamis (22/1) Naik lagi, Tertinggi Rp 14.825 per Kg

“Strategi kami meliputi replanting tanaman tua dan rusak, perluasan areal tanam, serta intensifikasi kebun melalui dukungan benih unggul bersertifikat dan sarana produksi,” kata Roni.

Meski menghadapi tantangan struktural, potensi kelapa Indonesia dinilai masih sangat besar. Dengan luas areal lebih dari 3,3 juta hektare, produksi sekitar 2,8 juta ton per tahun, dan melibatkan lebih dari 5,5 juta kepala keluarga petani, kelapa menjadi salah satu komoditas strategis berbasis rakyat. Dukungan agroklimat di berbagai wilayah juga membuka peluang pengembangan kawasan kelapa terpadu berbasis korporasi petani.

Seiring pembenahan di sisi hulu, Kementan mulai mengakselerasi pembangunan kawasan kelapa berbasis hilirisasi. Program ini telah dimulai sejak 2025 dengan pengembangan kawasan seluas 11.515 hektare.

BACA JUGA: Harga Referensi Minyak Sawit (CPO) Periode Januari 2026 Turun ke USD 915,64 per Ton

“Pada 2026, pengembangan kawasan hilirisasi kelapa ditargetkan meningkat signifikan hingga sekitar 154.000 hektare. Kemudian pada 2027 akan kembali diperluas sekitar 64.275 hektare, sejalan dengan penguatan industri pengolahan dan kemitraan usaha,” jelas Roni.

Hilirisasi dipandang sebagai kunci untuk mendongkrak nilai ekonomi kelapa. Mentan Amran mencontohkan, satu butir kelapa yang dijual mentah bernilai sekitar Rp3.000, namun setelah diolah menjadi coconut milk atau coconut water, nilainya bisa melonjak menjadi Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per butir.

“Di sinilah pentingnya hilirisasi. Nilai tambahnya sangat besar dan langsung berdampak pada peningkatan pendapatan petani,” tegasnya.

Melalui strategi ini, Kementan mendorong pengembangan beragam produk turunan kelapa bernilai tinggi, seperti virgin coconut oil (VCO), santan, gula kelapa, nata de coco, arang dan briket tempurung, cocopeat, serat sabut, hingga produk pangan dan kosmetik berbasis kelapa. Seluruh pengembangan diarahkan berbasis GAP, penguatan pascapanen, serta fasilitasi akses pasar domestik dan ekspor.

Dari sisi kelembagaan, pemerintah juga memperkuat kelompok tani dan gabungan kelompok tani melalui pelatihan, akses pembiayaan, kemitraan usaha, serta dukungan regulasi. Sinergi dengan pemerintah daerah dan pelaku industri terus diperluas, termasuk dalam pengembangan benih, pembangunan kebun induk, hingga industrialisasi kelapa di sentra produksi.

Dengan peremajaan kebun sebagai fondasi dan hilirisasi sebagai penggerak nilai tambah, Kementerian Pertanian optimistis komoditas kelapa dapat kembali bangkit sebagai unggulan nasional. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat ekonomi desa, membuka lapangan kerja baru, serta mendorong kelapa Indonesia lebih berdaya saing di pasar global. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP