HKTI Optimis Produksi Beras 2026 Tetap Aman Meski Tekanan Iklim Meningkat

HKTI Optimis Produksi Beras 2026 Tetap Aman Meski Tekanan Iklim Meningkat
Ilustrasi gabah dan beras. Foto: Istimewa

08 February 2026 , 17:20 WIB

AGRICOM, BANDUNG — Menjelang panen raya 2026, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menyatakan keyakinannya bahwa produksi padi nasional akan tetap terjaga, meskipun sektor pertanian masih dihadapkan pada tantangan dinamika iklim, termasuk potensi curah hujan tinggi di sejumlah sentra produksi.

Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat, Entang Sastraatmaja, menilai faktor iklim tidak serta-merta menjadi penghambat produksi. Ia justru melihat berbagai program Kementerian Pertanian yang berorientasi pada peningkatan produksi telah berada pada jalur yang tepat dan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat swasembada pangan nasional.

BACA JUGA: Kasad Maruli Simanjuntak Hadiri Panen Fest 2026, Dorong Produksi Pertanian Nasional Terus Ditingkatkan

“Saya optimistis petani tetap mampu berproduksi dengan baik, meskipun menghadapi hujan ekstrem. Pemerintah secara serius membangun optimisme petani melalui program-program yang nyata dan terukur,” ujar Entang, dikutip Agricom.id, Minggu (8/2).

Menurut Entang, kesiapan produksi dan penyerapan gabah pada musim panen 2026 ditopang oleh sejumlah faktor penting, antara lain distribusi benih unggul, penambahan alokasi pupuk subsidi, serta dukungan sarana pengelolaan air seperti sistem pompanisasi yang berperan mengatur tata air di lahan pertanian.

“HKTI mendukung penuh langkah pemerintah dalam mempersiapkan musim tanam petani. Persiapan tanam adalah fondasi utama untuk menjaga keberlanjutan produksi padi nasional,” tegasnya.

BACA JUGA: Mendag Tinjau Pabrik Minyak Goreng di Bekasi, Stok Dipastikan Aman Jelang Ramadan

Ia menambahkan, keberhasilan peningkatan produksi padi nasional sepanjang 2025 menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara pemerintah dan petani telah membuahkan hasil positif. Persiapan tanam yang matang pada periode sebelumnya dinilai menjadi kunci agar capaian tersebut tidak hanya bertahan, tetapi juga meningkat pada 2026.

“Petani harus tetap optimistis dan menjaga semangat. Apa yang dilakukan pemerintah saat ini sudah berada di jalur yang benar dan sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan ketahanan pangan serta swasembada beras yang berkelanjutan,” katanya.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), potensi luas panen pada Januari–Maret 2026 diperkirakan mencapai 3,28 juta hektare, atau meningkat sekitar 15,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Januari 2025 luas panen tercatat 0,42 juta hektare, Februari 0,76 juta hektare, dan Maret 1,67 juta hektare.

BACA JUGA: Produksi Gula Tembus 2,67 Juta Ton, Kementan Pacu Target Swasembada 2027

Dari sisi produksi, sepanjang Januari–Desember 2025, produksi beras nasional mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024. Sementara produksi padi tercatat sebesar 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG), naik sekitar 7,06 juta ton GKG secara tahunan.

Entang menilai capaian tersebut sejalan dengan proyeksi lembaga internasional, seperti FAO dan USDA, yang memperkirakan produksi beras Indonesia berada di kisaran 34,6 juta ton.

“Lonjakan produksi ini menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas, perluasan luas panen, serta kebijakan yang berpihak kepada petani menjadi modal kuat menghadapi musim tanam berikutnya, termasuk awal 2026 yang masih menjanjikan,” ujarnya.

HKTI juga mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat sinergi, khususnya dalam memastikan kesiapan tanam petani di tengah dinamika iklim. Pendampingan lapangan, kemudahan akses sarana produksi, serta kepastian distribusi input pertanian dinilai krusial agar petani dapat bekerja dengan tenang dan produktif.

“Indonesia sudah membuktikan mampu menggenjot produksi. Tantangan ke depan adalah menjaga dan melestarikan capaian ini agar swasembada beras tidak hanya menjadi prestasi sesaat, tetapi berkelanjutan. Ini pekerjaan besar yang harus dijalankan dengan kehormatan dan tanggung jawab,” pungkas Entang.

HKTI optimistis, dengan persiapan tanam yang matang serta dukungan kebijakan yang konsisten, sektor pertanian nasional akan tetap menjadi penopang utama ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di seluruh daerah.

“Kita harus optimistis, karena apa yang dibangun hari ini bisa menjadi percontohan bagi masa tanam berikutnya,” tutupnya. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP