Hilirisasi Perkebunan Dipacu, Kementan Targetkan 870 Ribu Hektare Komoditas Strategis

Hilirisasi Perkebunan Dipacu, Kementan Targetkan 870 Ribu Hektare Komoditas Strategis
Agricom.id

02 March 2026 , 09:31 WIB

Melalui pengembangan kawasan komoditas strategis dan peningkatan produktivitas, Kementerian Pertanian mempercepat transformasi sektor perkebunan menuju industri bernilai tambah tinggi berbasis hilirisasi. Foto: Ditjenbun

 

AGRICOM, Jakarta – Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) mempercepat implementasi program hilirisasi perkebunan sebagai bagian dari agenda Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Kebijakan ini diarahkan untuk mendorong transformasi sektor perkebunan dari pemasok bahan mentah menjadi industri berbasis nilai tambah tinggi.

Program hilirisasi periode 2025–2027 menargetkan pengembangan kawasan seluas 870.890 hektare untuk berbagai komoditas strategis, antara lain tebu, kelapa, kopi, kakao, jambu mete, lada, dan pala. Intervensi dilakukan secara bertahap melalui dukungan penyediaan benih unggul, pupuk, serta penguatan kapasitas tenaga kerja pekebun.

BACA JUGA: Kementan Jamin Produksi CPO 2026 Aman untuk Minyak Goreng dan Biodiesel

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan daya saing dan memperkuat fondasi ekonomi desa. Menurutnya, ketergantungan pada ekspor bahan mentah harus diakhiri melalui pembangunan industri pengolahan yang terintegrasi dengan sentra produksi.

“Kita tidak boleh lagi bergantung pada ekspor bahan mentah. Hilirisasi perkebunan harus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi desa, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan devisa, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional,” tegas Mentan, dikutip Agricom.id dari laman Ditjenbun, Senin.

Mentan Amran menambahkan, strategi hilirisasi disusun dengan mempertimbangkan kesiapan bahan baku, kebutuhan pasar dalam negeri, potensi ekspor, serta daya saing industri. Transformasi ini diharapkan mampu menciptakan harga yang lebih stabil, memperkuat industri dalam negeri, dan meningkatkan kesejahteraan pekebun.

BACA JUGA: HPE Biji Kakao Periode Maret 2026 Anjlok 30,44 Persen Akibat Permintaan Melemah

Secara keseluruhan, potensi penyerapan tenaga kerja mencapai 8,6 juta orang. Komoditas prioritas meliputi kelapa dalam, kakao, kopi, tebu, kelapa sawit, lada, mete, dan lainnya, dengan orientasi pengembangan ekspor maupun substitusi impor.

Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas menjadi fondasi utama hilirisasi.

“Kami memastikan ketersediaan benih bermutu dan pengembangan kawasan berbasis potensi wilayah. Dengan produktivitas yang meningkat, pasokan bahan baku industri akan terjamin, sehingga hilirisasi berjalan berkelanjutan,” ujar Roni.

BACA JUGA: Harga Referensi CPO Maret 2026 Naik 2,22%, Bea Keluar Ditetapkan USD 124/MT

Ia menambahkan, pada Tahun Anggaran 2026 pengembangan kawasan difokuskan di berbagai sentra produksi nasional. Untuk komoditas kelapa ditargetkan 154.000 hektare, kopi 86.000 hektare, kakao 175.500 hektare, tebu 99.547 hektare, pala 14.800 hektare, lada 3.438 hektare, jambu mete 48.200 hektare, serta sagu 3.350 hektare.

“Seluruh proses penetapan penerima bantuan dilakukan melalui mekanisme Calon Penerima dan Calon Lokasi (CPCL) yang diverifikasi secara berjenjang, baik administrasi maupun lapangan, guna memastikan ketepatan sasaran dan akuntabilitas program,” kata Roni.

Pada kesempatan tersebut, Roni juga mengajak Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) untuk menjadi mitra pengadaan benih maupun menjadi penerima manfaat dari program hilirisasi. Kegiatan ini turut dihadiri para kepala daerah, yakni Bupati Bengkulu Selatan, Bupati Sorong Selatan, dan Bupati Barito Kuala, sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap percepatan pengembangan kawasan perkebunan berbasis hilirisasi di wilayah masing-masing.

Roni berharap melalui langkah ini, pihaknya optimistis sektor perkebunan akan menjadi pilar utama hilirisasi nasional, mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen dan eksportir komoditas perkebunan unggulan dunia. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP