Kementerian Pertanian memperkuat langkah stabilisasi harga telur ayam ras melalui peningkatan serapan pasar, hilirisasi produk peternakan, hingga optimalisasi program MBG, sementara asosiasi memastikan kondisi peternak di berbagai daerah masih kondusif. Foto: Istimewa
AGRICOM, JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat langkah stabilisasi subsektor peternakan nasional, khususnya dalam menjaga harga telur ayam ras di tingkat peternak. Strategi yang ditempuh meliputi penguatan serapan pasar, distribusi antardaerah, hingga hilirisasi produk peternakan guna menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat.
Langkah tersebut dilakukan menyusul fluktuasi harga telur di sejumlah wilayah akibat tingginya pasokan di tengah melemahnya daya serap pasar dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, pemerintah memastikan kondisi usaha peternak rakyat masih terkendali dan terus mendapat dukungan penuh.
BACA JUGA: Prabowo di KTT ASEAN: Ketahanan Pangan Jadi Fondasi Kedaulatan dan Perdamaian
Melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), pemerintah menegaskan komitmennya menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat sekaligus memastikan keterjangkauan pangan bagi masyarakat.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan pemerintah memahami tekanan yang dihadapi peternak layer rakyat akibat penurunan harga di tingkat produsen.
“Kami memahami tekanan yang dirasakan peternak layer rakyat akibat fluktuasi harga telur. Arahan Bapak Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman sangat jelas, negara harus hadir menjaga peternak rakyat agar tetap mampu berusaha dan berkembang,” ujar Agung, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Senin (11/5/2026).
BACA JUGA: Kementan Tanam Padi Serempak di 25 Provinsi untuk Jaga Produksi Nasional
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya juga menegaskan pemerintah akan terus berpihak kepada peternak nasional melalui berbagai langkah stabilisasi pasar.
“Kita berpihak pada peternak Indonesia. Jangan biarkan peternak kita berjalan sendiri. Kami akan terus memperjuangkan dan membela peternak,” tegas Mentan Amran.
Menurut Agung, Kementan terus memperkuat koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, asosiasi peternak, hingga pelaku usaha guna menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan telur nasional.
BACA JUGA: Mentan Amran Gerak Cepat Tindak Laporan Mahasiswa soal Bawang Ilegal dan Pupuk Subsidi
“Kami terus mendorong penguatan serapan pasar, distribusi antardaerah, hilirisasi produk peternakan, serta optimalisasi pemanfaatan telur pada berbagai program pemenuhan gizi masyarakat. Langkah ini penting agar harga di tingkat peternak dapat kembali bergerak lebih stabil,” katanya.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki kapasitas produksi telur yang kuat sebagai penopang ketahanan pangan nasional sehingga perlu dijaga melalui penguatan tata niaga dan distribusi.
“Produksi yang kuat adalah modal penting bangsa. Karena itu, yang perlu diperkuat adalah tata niaga, distribusi, dan hilirisasi agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata oleh peternak rakyat,” tambahnya.
BACA JUGA: Harga Ayam, Telur, dan Cabai Turun, Bantu Redam Inflasi April 2026
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga dinilai menjadi salah satu instrumen strategis dalam memperbesar penyerapan telur nasional.
Mentan Amran sebelumnya menyebut program tersebut mampu menjadi bantalan pasar ketika terjadi kelebihan pasokan produksi.
Selain penguatan serapan, Kementan juga terus memperluas hilirisasi produk peternakan guna meningkatkan nilai tambah dan membuka pasar baru bagi hasil produksi peternak rakyat.
BACA JUGA: Tak Hanya Sawit, Grant Riset BPDP 2026 Perluas Riset Komoditas Kelapa dan Kakao
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen PKH, Makmun, mengatakan hilirisasi menjadi strategi penting dalam menciptakan stabilitas usaha subsektor peternakan.
“Kami terus mendorong pengembangan produk olahan telur dan diversifikasi pemanfaatan hasil peternakan agar pasar semakin luas. Hilirisasi akan membantu menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat stabilitas usaha peternak,” kata Makmun.
Menurutnya, peningkatan konsumsi protein hewani juga menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan subsektor peternakan nasional.
BACA JUGA: BPDP Dorong Hilirisasi Kelapa, Riset Difokuskan pada Nilai Tambah dan Kesejahteraan Petani
“Kami optimistis konsumsi telur nasional masih sangat potensial untuk terus ditingkatkan. Dengan penguatan edukasi gizi dan perluasan pemanfaatan produk peternakan dalam berbagai program pemerintah, peluang pasar ke depan akan semakin besar,” ujarnya.
Di tengah dinamika harga tersebut, sejumlah asosiasi peternak memastikan kondisi di lapangan masih kondusif. Ketua Rumah Kebersamaan BKT NT Blitar, Eti, mengatakan aktivitas perdagangan telur di tingkat peternak tetap berjalan dengan mengacu pada harga yang telah disepakati bersama.
“Kondisi peternak ayam petelur di Blitar saat ini secara umum masih dalam situasi yang kondusif. Aktivitas perdagangan telur di tingkat peternak tetap berjalan dengan mengacu pada harga harmoni yang telah disepakati bersama,” ujar Eti.
Ia menyebut harga telur saat ini memang masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp26.500 per kilogram akibat tingginya pasokan di tengah melemahnya daya serap pasar.
Hal serupa disampaikan Ketua Koperasi Unggas Sejahtera Kendal, Suwardi. Menurutnya, peternak di wilayah Kendal dan sekitarnya terus berupaya menjaga stabilitas harga di tingkat lapangan.
“Peternak layer di wilayah Kendal dan sekitarnya tetap berupaya menjaga situasi agar tetap kondusif, termasuk menjaga harga jual telur agar tidak terus mengalami penurunan,” ujar Suwardi.
Sementara itu, pemerintah daerah juga mulai memperkuat langkah penanganan melalui koordinasi lintas sektor. Di Kabupaten Magetan, salah satu upaya yang dibahas adalah peningkatan penyerapan telur melalui penambahan menu berbasis telur pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kementerian Pertanian memastikan akan terus mengawal stabilisasi subsektor peternakan melalui penguatan distribusi, serapan pasar, hilirisasi, dan peningkatan konsumsi protein hewani agar peternak rakyat tetap kuat dan subsektor peternakan nasional semakin berdaya saing. (A3)