Harga CPO Malaysia Melemah Tiga Hari Beruntun, Turun ke RM4.542 per Ton

Harga CPO Malaysia Melemah Tiga Hari Beruntun, Turun ke RM4.542 per Ton
Agricom.id

26 June 2026 , 13:33 WIB

Dok. Agricom/Kontrak CPO Bursa Malaysia kembali terkoreksi pada Kamis (26/6/2026), sementara harga CPO KPBN turun Rp300/kg akibat tekanan dari pasar minyak mentah dan minyak nabati global.

AGRICOM, KUALA LUMPUR – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali melemah pada perdagangan Kamis (26/6/2026), memperpanjang tren penurunan menjadi tiga sesi berturut-turut. Pelemahan pasar dipicu oleh turunnya harga minyak mentah dunia dan melemahnya harga minyak nabati pesaing.

Dilansir dari Reuters, kontrak CPO acuan pengiriman September 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 91 ringgit atau 1,96% menjadi RM4.542 per ton pada jeda perdagangan siang. Dalam dua sesi perdagangan sebelumnya, kontrak yang sama telah mencatat penurunan kumulatif sebesar 0,83%.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Melemah Dua Hari Beruntun, CPO KPBN Naik 2,19 Persen

Pelaku pasar masih bersikap hati-hati sambil menunggu data ekspor terbaru yang dinilai dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan permintaan global, khususnya dari negara-negara konsumen utama seperti India, Tiongkok, dan Uni Eropa.

Pelemahan harga di Bursa Malaysia juga tercermin di pasar domestik. Harga CPO pada PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) ditetapkan sebesar Rp15.350/kg pada Kamis (26/6/2026). Dengan demikian, harga CPO turun Rp300/kg atau sekitar 1,92% dibandingkan harga pada Rabu (25/6/2026) yang mencapai Rp15.650/kg.

Tekanan terhadap pasar minyak sawit turut berasal dari melemahnya harga minyak nabati global. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian Commodity Exchange turun 0,43%, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama merosot 2,19%.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Naik 2,19 Persen Pada Rabu (24/6), Bursa Malaysia Masih Tertekan

Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) juga terkoreksi 0,34%, sehingga memperkuat sentimen negatif di pasar minyak nabati internasional.

Analis menilai penurunan harga minyak mentah dunia ikut memengaruhi pergerakan harga CPO. Harga energi yang lebih rendah berpotensi mengurangi daya tarik bahan bakar nabati, termasuk biodiesel berbasis minyak sawit, sehingga menambah tekanan terhadap pasar.

Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati prospek permintaan biodiesel dari Indonesia yang tengah mempersiapkan implementasi mandatori biodiesel 50 persen (B50) mulai Juli 2026. Kebijakan tersebut diperkirakan dapat memberikan dukungan terhadap permintaan minyak sawit dalam jangka menengah.

BACA JUGA: Presiden Prabowo Terima Adi Bakti Tani Nelayan Maha Utama di PENAS XVII Gorontalo

Pergerakan harga CPO dalam beberapa hari ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan pasar energi global, harga minyak nabati pesaing, serta data ekspor dan produksi yang akan dirilis menjelang akhir bulan. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP