AGRICOM, Karachi – Pemerintah Indonesia terus mempercepat penguatan kerja sama ekonomi dengan Pakistan, dengan minyak sawit sebagai salah satu pilar utama. Pakistan tercatat sebagai negara tujuan ekspor minyak sawit terbesar ketiga Indonesia setelah Tiongkok dan India.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, saat menghadiri Indonesian Palm Oil Networking Reception di Karachi, Pakistan, Jumat (9/1/2026).
BACA JUGA:
- Lewat Palm Oil Networking Reception, Indonesia–Pakistan Masuki Babak Baru Kemitraan Strategis
Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Perdagangan Pakistan Jam Kamal Khan, Duta Besar RI untuk Pakistan Chandra W. Sukotjo, Direktur Perundingan Antar-Kawasan dan Organisasi Internasional Kemendag Natan Kambuno, serta Konsul Jenderal RI di Karachi Mudzakir. Dari unsur pelaku usaha hadir Chairman Pakistan Edible Oil Refiners Association (PEORA) Abdul Rasheed Jan Muhammad, Chairman Pakistan Vanaspati Manufacturers Association (PVMA), Ketua Umum GAPKI Eddy Martono, serta perwakilan KADIN Indonesia Mufti Hamka St. Rajo Basa.
“Dalam lima tahun terakhir, ekspor minyak sawit Indonesia ke Pakistan tumbuh rata-rata delapan persen per tahun. Karena itu, pemerintah terus menggenjot peningkatan kerja sama perdagangan agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat luas di kedua negara,” ujar Wamendag Roro, dikutip Agricom.id dari laman Kemendag, Senin (12/1).
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Jumat (9/1) Masih Naik, Tembus Rp 14.411 per Kg
Pada kesempatan tersebut, Indonesia dan Pakistan menandatangani Nota Kesepahaman Pembentukan Joint Trade Commission (JTC) Indonesia–Pakistan yang ditandatangani Wamendag RI dan Menteri Perdagangan Pakistan. Pembentukan JTC menandai babak baru hubungan dagang kedua negara yang lebih terstruktur, terarah, dan berkelanjutan.
Forum ini akan menjadi wadah reguler untuk mendorong promosi perdagangan, memfasilitasi pelaku usaha, memperkuat UMKM, serta mempercepat penyelesaian berbagai isu teknis perdagangan.
“Langkah ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden RI ke Pakistan pada Desember 2025, yang menyepakati peningkatan Indonesia–Pakistan Preferential Trade Agreement (I-P PTA) menuju Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) pada 2027,” jelas Wamendag Roro.
BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Melemah di Akhir Pekan, Kinerja Mingguan Tetap Positif
Ia menambahkan, kerja sama melalui skema I-P PTA selama ini telah berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan perdagangan bilateral, terutama melalui peningkatan ekspor minyak sawit Indonesia.
“Selama puluhan tahun, minyak sawit telah menjadi fondasi hubungan dagang Indonesia–Pakistan. Pakistan adalah mitra strategis Indonesia di sektor minyak nabati. Hubungan jangka panjang antara penyuling dan produsen di kedua negara dibangun atas dasar keandalan, efisiensi, dan kepercayaan,” tegasnya.
Wamendag Roro menjelaskan, minyak sawit merupakan minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi di Pakistan. Selama 15 tahun terakhir, impor minyak sawit secara konsisten mendominasi bauran minyak nabati negara tersebut, melampaui kedelai, lobak, dan bunga matahari.
BACA JUGA: Petani Karawang Rasakan Dampak Swasembada: Produksi Melonjak, Harga Gabah Dongkrak Kesejahteraan
“Di tengah ketidakpastian global—baik gangguan logistik, volatilitas harga, maupun tantangan rantai pasok—Indonesia tetap menjadi pemasok minyak sawit yang stabil. Indonesia memasok sekitar 85–89 persen kebutuhan impor minyak sawit Pakistan. Ini mencerminkan keandalan Indonesia sekaligus kepercayaan importir Pakistan,” katanya.
Terkait kebijakan biodiesel nasional, Wamendag menegaskan bahwa penguatan mandat biodiesel, termasuk persiapan menuju B50 pada 2026, tidak akan mengganggu ketersediaan ekspor minyak sawit.
“Indonesia mengelola tata kelola minyak sawit secara cermat untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor. Dengan kapasitas produksi yang kuat, peningkatan produktivitas, dan pengelolaan stok yang baik, pasokan ekspor akan tetap stabil dan dapat diprediksi, khususnya bagi mitra lama seperti Pakistan,” ujarnya.
Dalam aspek keberlanjutan, Pemerintah Indonesia juga terus memperkuat tata kelola sektor sawit melalui sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), modernisasi sistem ketertelusuran, peningkatan kepatuhan hukum, serta perluasan sertifikasi nasional.
“Minyak sawit Indonesia bukan hanya kompetitif, tetapi juga berkelanjutan. Karena masih banyak disinformasi yang beredar, kolaborasi konstruktif antarpelaku usaha dan asosiasi menjadi sangat penting untuk membangun pemahaman yang berbasis fakta,” kata Wamendag Roro.
Sejalan dengan itu, Indonesia menyambut baik penandatanganan Nota Kesepahaman antara GAPKI dengan PEORA dan PVMA. Kemitraan ini difokuskan pada edukasi publik dan penguatan narasi positif tentang minyak sawit di Pakistan, sebagai komitmen bersama untuk mempromosikan informasi yang seimbang, faktual, dan berorientasi masa depan.
“Minyak sawit bukan sekadar komoditas. Ia adalah jembatan yang menghubungkan perekonomian, memperkuat industri, dan mempererat hubungan antarmasyarakat. Indonesia siap memastikan pasokan minyak sawit yang stabil, andal, dan berkelanjutan bagi Pakistan,” tegas Wamendag Roro.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Pakistan Jam Kamal Khan menegaskan bahwa Indonesia merupakan mitra strategis Pakistan. Ia berharap kerja sama kedua negara ke depan semakin kuat dan saling menguntungkan, serta iklim kemudahan berusaha dengan Indonesia terus diperluas.
Selain kerja sama bilateral, Wamendag Roro juga menegaskan komitmen Indonesia dalam memperkuat kerja sama regional, termasuk melalui forum Developing Eight (D-8). Indonesia menyambut baik implementasi D-8 Preferential Trade Agreement oleh Pakistan dan menargetkan penguatan kerja sama ekonomi D-8 seiring Keketuaan Indonesia pada periode 2026–2027. (A3)