Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri berdialog dengan para importir rempah Pakistan dalam forum B2B di Karachi, membahas peluang perluasan ekspor rempah Indonesia dan penguatan kemitraan dagang kedua negara. Foto: Kemendag
AGRICOM, KARACHI – Pemerintah Indonesia terus mengintensifkan upaya penguatan kerja sama dagang dengan Pakistan, khususnya di sektor rempah-rempah. Kedua negara memiliki keterikatan historis yang panjang dalam perdagangan rempah, yang berakar kuat pada budaya, kuliner, dan industri tradisional.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri saat membuka forum business-to-business (B2B) bersama importir rempah Pakistan di Karachi, Jumat (9/1).
Dalam pertemuan yang dihadiri 10 importir Pakistan itu, Wamendag Roro menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu produsen rempah berkualitas tinggi dunia, sekaligus pusat perdagangan rempah global sejak berabad-abad lalu.
BACA JUGA: Lewat Palm Oil Networking Reception, Indonesia–Pakistan Masuki Babak Baru Kemitraan Strategis
“Bagi Indonesia, Pakistan merupakan pasar yang dinamis dan terus tumbuh, dengan permintaan kuat terhadap rempah, baik untuk konsumsi domestik maupun untuk pengolahan berorientasi ekspor. Ini menjadi dasar penting untuk memperkuat sinergi kedua negara,” ujar Wamendag Roro, dikutip Agricom.id dalam keterangan tertulis, Minggu (11/1).
Pada 2024, nilai ekspor rempah Indonesia ke Pakistan tercatat mencapai USD 16,7 juta. Meski secara tren periode 2020–2024 mengalami koreksi rata-rata 2,65 persen, kinerja ekspor sepanjang Januari–Oktober 2025 justru menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 42 persen. Peningkatan ini ditopang melonjaknya ekspor bunga pala hingga 100 persen, pala 65 persen, dan cengkih 49 persen.
Meski Indonesia telah menjadi pemasok rempah terbesar kelima bagi Pakistan pada 2024, Wamendag Roro menilai potensi pasar masih sangat besar untuk digarap.
BACA JUGA: Indonesia–Pakistan Perkuat Aliansi Dagang, Sawit Jadi Poros Utama Kerja Sama
“Angka ini menunjukkan peluang peningkatan perdagangan masih sangat terbuka. Dengan kolaborasi yang lebih erat, kita dapat memperluas pangsa pasar Indonesia sekaligus menciptakan manfaat nyata bagi kedua negara,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan Konsulat Jenderal RI di Karachi telah memfasilitasi sesi business matching pada 6 Januari 2026. Kegiatan yang digelar secara hibrida itu mempertemukan 10 perusahaan Indonesia dan delapan importir Pakistan. Kedua pihak sepakat menindaklanjuti pertemuan awal tersebut melalui pengiriman sampel produk.
Kunjungan kerja Wamendag Roro ke Karachi kian menegaskan kuatnya hubungan Indonesia–Pakistan yang tidak hanya ditopang aktivitas perdagangan, tetapi juga fondasi diplomatik lebih dari tujuh dekade. Pakistan tetap menjadi salah satu mitra utama Indonesia di Asia Selatan, sementara Indonesia dipandang sebagai pintu masuk strategis bagi Pakistan ke pasar ASEAN.
Asia Selatan, khususnya Pakistan, menawarkan peluang besar bagi eksportir Indonesia. Data menunjukkan impor rempah Pakistan tumbuh positif pada periode 2023–2024 dengan pertumbuhan mencapai 34,5 persen.
Wamendag Roro menegaskan, pemerintah berkomitmen penuh mendukung kerja sama antarpelaku usaha kedua negara.
“Melalui perwakilan perdagangan di luar negeri dan kerangka kebijakan yang mendukung, pemerintah siap memfasilitasi pertukaran informasi serta mempertemukan para pelaku bisnis,” ujarnya.
Ia juga mengajak importir Pakistan untuk melihat Indonesia tidak hanya sebagai pemasok, tetapi sebagai mitra strategis jangka panjang yang mampu menjamin kualitas, kontinuitas pasokan, serta diversifikasi produk rempah.
“Kemitraan ekonomi yang kuat tidak hanya dibangun lewat perjanjian dan angka statistik, tetapi juga melalui kepercayaan, dialog, dan keterlibatan yang berkelanjutan,” kata Wamendag Roro.
Ia berharap pertemuan ini mampu memperkuat pemahaman bersama, memunculkan ide-ide baru, dan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara eksportir Indonesia dan importir Pakistan di sektor rempah.
Dalam kunjungan ini, Wamendag Roro didampingi Duta Besar RI untuk Pakistan Chandra W. Sukotjo, Direktur Perundingan Antar-Kawasan dan Organisasi Internasional Kemendag Natan Kambuno, serta Konsul Jenderal RI di Karachi Mudzakir.
Antusiasme pelaku usaha Pakistan tercermin dari respons para importir. Perwakilan Kalodi Group, Ghani Abdullah Kalodi, menilai Indonesia sebagai mitra yang andal dan strategis.
“Indonesia merupakan salah satu pemasok rempah yang konsisten dari sisi kualitas dan keberlanjutan pasokan. Melalui forum ini, kami melihat peluang konkret untuk memperluas kerja sama jangka panjang dengan eksportir Indonesia guna memenuhi kebutuhan pasar Pakistan,” ujarnya. (A3)