Harga CPO di Bursa Malaysia melemah setelah harga minyak kedelai di pasar berjangka Amerika Serikat, khususnya Chicago Board of Trade, mengalami penurunan, disertai turunnya volume perdagangan meski open interest meningkat. Foto: Agricom
AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia kembali ditutup melemah seiring tekanan dari pasar global. Pelemahan harga terutama dipicu oleh penurunan harga minyak kedelai di pasar berjangka Amerika Serikat, khususnya di Chicago Board of Trade (CBOT), yang selama ini menjadi acuan utama perdagangan minyak nabati dunia.
Berdasarkan laporan Bernama, sentimen negatif dari pasar minyak kedelai turut membebani pergerakan CPO, di tengah kehati-hatian pelaku pasar terhadap prospek permintaan dan dinamika harga minyak nabati pesaing.
BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Naik Empat Hari Beruntun, Sentuh Level Tertinggi Tiga Bulan
Pada penutupan perdagangan di Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO Februari 2026 tercatat turun RM60 menjadi RM4.160 per ton. Sementara itu, kontrak Maret 2026 melemah lebih dalam sebesar RM89 ke level RM4.209 per ton, dan kontrak April 2026 terkoreksi RM88 menjadi RM4.229 per ton.
Tekanan harga juga berlanjut pada kontrak berjangka lainnya. Kontrak Mei 2026 turun RM84 ke posisi RM4.228 per ton, disusul kontrak Juni 2026 yang melemah RM79 menjadi RM4.213 per ton. Adapun kontrak Juli 2026 ditutup turun RM72 ke level RM4.194 per ton.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Kamis (29/1) naik Menjadi Rp 15.375 Per Kg
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi CPO tercatat menurun menjadi 84.668 lot, dibandingkan 97.561 lot pada sesi sebelumnya. Meski demikian, open interest justru mengalami peningkatan menjadi 220.712 kontrak, naik dari 218.191 kontrak, mencerminkan masih adanya minat pelaku pasar dalam mempertahankan posisi.
Sementara itu, di pasar fisik, harga CPO Februari wilayah Selatan Malaysia dilaporkan turun RM40 menjadi RM4.200 per ton, sejalan dengan pelemahan di pasar berjangka. (A3)