AGRICOM, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah pada perdagangan Kamis (26/2/2026). Tekanan datang dari kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan permintaan ekspor, seiring penguatan nilai tukar ringgit yang dinilai mengurangi daya saing harga sawit Malaysia di pasar global.
Pada penutupan perdagangan, kontrak Maret 2026 turun RM63 menjadi RM3.955 per ton. Kontrak April 2026 melemah RM50 ke level RM3.996 per ton, sementara kontrak Mei 2026 terkoreksi RM48 menjadi RM4.005 per ton, sepert dilansir dari Bernama.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Ditutup Melemah, Tertekan Soyoil dan Aksi Ambil Untung
Tekanan berlanjut pada kontrak Juni 2026 yang turun RM47 menjadi RM4.006 per ton. Kontrak Juli 2026 melemah RM45 ke posisi RM4.003 per ton, sedangkan Agustus 2026 berkurang RM43 menjadi RM3.998 per ton.
Pelemahan ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar. Penguatan ringgit membuat harga CPO menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga memicu kekhawatiran berkurangnya permintaan ekspor dalam jangka pendek. Selain faktor mata uang, pasar juga masih mencermati dinamika harga minyak nabati pesaing dan perkembangan permintaan dari negara importir utama.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Kamis (26/2) Naik Tipis ke Rp14.265/Kg, Pasar Global Masih Berfluktuasi
Meski harga terkoreksi, aktivitas perdagangan justru menunjukkan peningkatan. Volume transaksi naik menjadi 61.228 lot dibandingkan 59.677 lot pada Rabu. Sementara itu, posisi terbuka (open interest) melonjak menjadi 227.240 kontrak dari sebelumnya 221.625 kontrak. Kenaikan open interest mengindikasikan masih adanya minat pelaku pasar untuk mengambil posisi baru di tengah volatilitas harga.
Di pasar fisik, harga CPO untuk pengiriman Maret di wilayah Selatan tercatat turun RM40 menjadi RM4.020 per ton, sejalan dengan pelemahan di pasar berjangka.
Sementara itu, tender KPBN Inacom pada Kamis (26/2/2026) harga CPO Franco Belawan & Dumai sebesar ditutup ebesar Rp 14.225/kg, FOB Talang Duku Rp 14.025/kg. (A3)