Kontrak CPO Mei 2026 di Bursa Malaysia turun 0,76% pada perdagangan Rabu siang setelah reli tiga hari berturut-turut, sementara impor sawit India justru melonjak ke level tertinggi enam bulan. Foto: Agricom
AGRICOM, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives mengalami koreksi pada perdagangan Rabu (4/3/2026) siang, setelah pada sesi sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir empat pekan.
Sebagaimana dilandir dari Reuters, pelemahan harga dipicu aksi ambil untung oleh pelaku pasar serta tekanan dari melemahnya harga minyak nabati pesaing di pasar global. Kondisi ini mendorong kontrak acuan kembali bergerak di zona negatif setelah reli dalam beberapa hari terakhir.
BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Sentuh Puncak Empat Pekan, Didorong Stok Turun dan Lonjakan Minyak Mentah
Kontrak CPO untuk pengiriman Mei 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tercatat turun RM32 per ton atau sekitar 0,76% menjadi RM4.154 per ton pada jeda perdagangan siang. Penurunan tersebut terjadi setelah kontrak yang sama mencatat penguatan selama tiga sesi berturut-turut.
Pergerakan di bursa lain cenderung bervariasi. Di Bursa Dalian, kontrak soyoil paling aktif naik tipis sekitar 0,26%, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah sekitar 0,04% setelah sempat turun hingga 0,49% pada awal sesi. Adapun harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade menguat sekitar 0,11% setelah sebelumnya mengalami koreksi.
BACA JUGA: Bulog Ekspor 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi untuk Jemaah Haji 1447 H
Dari sisi fundamental permintaan, impor minyak sawit India dilaporkan meningkat sekitar 10,1% pada Februari dan mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Kenaikan tersebut dipicu oleh selisih harga minyak sawit yang semakin kompetitif dibandingkan minyak nabati lainnya, sehingga mendorong kilang di India meningkatkan pembelian dan menekan impor minyak bunga matahari.
Sementara itu, harga minyak mentah global tercatat naik sekitar 1% pada Rabu. Penguatan dipengaruhi gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Meski demikian, kenaikan harga mulai tertahan setelah muncul kabar bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat berpotensi mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, sehingga meredakan kekhawatiran gangguan distribusi energi global.
Secara keseluruhan, pergerakan CPO masih dipengaruhi kombinasi faktor teknikal dan sentimen eksternal, termasuk dinamika minyak nabati pesaing serta perkembangan geopolitik global. (A3)