AGRICOM, KUALA LUMPUR – Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah pada perdagangan Selasa (9/3/2026) setelah sebelumnya sempat mencatat penguatan. Pelemahan ini dipicu oleh sentimen negatif dari penurunan harga minyak mentah serta aksi ambil untung di pasar minyak nabati global.
Dilansir dari Bernama, tekanan terhadap harga CPO juga dipengaruhi oleh pergerakan pasar minyak nabati dunia yang cenderung melemah dalam beberapa sesi terakhir.
BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Tembus RM4.500 per Ton, Didukung Lonjakan Pasar Energi Global
Analis senior di Fastmarkets Palm Oil Analytics, Sathia Varqa, menjelaskan bahwa pelemahan harga CPO terjadi karena pelaku pasar melakukan aksi profit taking setelah sebelumnya harga mengalami kenaikan.
Selain itu, pasar kedelai juga menunjukkan tren penurunan. Kontrak berjangka kedelai paling aktif untuk Mei 2026 di Dalian Commodity Exchange (DCE) tercatat turun 83 yuan atau sekitar US$12,03 menjadi 4.749 yuan per ton, yang turut menambah tekanan pada pasar minyak nabati global.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Selasa (10/3/) Naik Jadi Rp 15.275/Kg, Sementara Bursa Malaysia Ditutup Melemah
Stok Sawit Malaysia Turun
Sementara itu, data dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan bahwa stok minyak sawit Malaysia pada Februari 2026 mengalami penurunan.
Total stok sawit tercatat turun 3,94% atau sekitar 111.062 ton menjadi 2,7 juta ton, dibandingkan dengan 2,82 juta ton pada Januari 2026.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO Maret 2026 Naik 2,22%, Bea Keluar Ditetapkan USD 124/MT
Stok CPO bahkan mengalami penurunan yang lebih tajam, yakni turun 11,67% atau sekitar 195.242 ton menjadi 1,48 juta ton, dari 1,67 juta ton pada bulan sebelumnya.
Laporan industri MPOB juga mencatat pelemahan pada kinerja ekspor dan produksi selama Februari.
Ekspor minyak sawit Malaysia tercatat turun 22,48% menjadi 1,13 juta ton, dibandingkan 1,45 juta ton pada Januari. Sementara itu, produksi CPO turun 18,55% atau sekitar 292.534 ton menjadi 1,28 juta ton, dari 1,58 juta ton pada bulan sebelumnya.
Pergerakan Kontrak Berjangka CPO
Pada penutupan perdagangan di Bursa Malaysia, mayoritas kontrak berjangka CPO tercatat melemah:
- Kontrak Maret 2026 turun RM142 menjadi RM4.312 per ton
- Kontrak April 2026 melemah RM142 menjadi RM4.398 per ton
- Kontrak Mei 2026 turun RM139 menjadi RM4.428 per ton
- Kontrak Juni 2026 turun RM131 menjadi RM4.428 per ton
- Kontrak Juli 2026 melemah RM123 menjadi RM4.412 per ton
- Kontrak Agustus 2026 turun RM118 menjadi RM4.384 per ton
Volume perdagangan juga tercatat menurun menjadi 147.182 lot, dibandingkan 220.402 lot pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, open interest turun menjadi 226.797 kontrak dari 237.662 kontrak.
Di pasar fisik, harga CPO untuk Maret South juga tercatat turun RM130 menjadi RM4.370 per ton.
Harga CPO KPBN Naik
Berbeda dengan tren di Bursa Malaysia, harga CPO di pasar domestik Indonesia justru mengalami kenaikan. Harga CPO yang ditetapkan oleh PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) tercatat Rp 15.275/kg pada Selasa (10/3/2026).
Harga tersebut meningkat Rp 164/kg atau sekitar 1,09% dibandingkan harga penawaran tertinggi pada Senin (6/3/2026) yang mencapai Rp 15.111/kg, mencerminkan dinamika pasar CPO yang berbeda antara pasar domestik Indonesia dan bursa internasional. (A3)