Harga CPO di Bursa Malaysia anjlok tajam pada akhir pekan, dipicu kekhawatiran kelebihan pasokan dan melemahnya permintaan global. Foto: Agricom
AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) global mengalami tekanan signifikan pada akhir perdagangan Jumat (10/4/2026), mengakhiri tren penguatan yang telah berlangsung selama lima pekan berturut-turut. Pelemahan ini menjadi sinyal perubahan sentimen pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Mengacu laporan Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juni 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun sebesar RM108 per ton atau terkoreksi 2,33% menjadi RM4.535 per ton, setara sekitar US$1.144,05 per ton.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Menguat Tipis, KPBN Kembali Withdraw di Tengah Dinamika Pasar
Penurunan ini turut memperdalam koreksi mingguan menjadi 6,28%, yang tercatat sebagai pelemahan terbesar dalam hampir 16 bulan terakhir. Kondisi ini sekaligus mengakhiri tren reli yang sebelumnya ditopang oleh ekspektasi pasokan ketat dan permintaan ekspor yang solid.
Tekanan terhadap harga CPO dipicu oleh kekhawatiran pasar atas potensi lonjakan produksi selama periode puncak panen April hingga Juni. Kenaikan produksi ini dikhawatirkan akan melampaui permintaan global yang saat ini masih dibayangi perlambatan ekonomi serta dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang turut meningkatkan biaya logistik.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Kamis (9/4) WD Lagi, Bursa Malaysia Berbalik Menguat Tipis
Di sisi fundamental, data menunjukkan bahwa stok minyak sawit Malaysia pada Maret 2026 justru mengalami penurunan untuk bulan ketiga berturut-turut dan berada pada level terendah dalam tujuh bulan terakhir. Penurunan stok ini didorong oleh peningkatan ekspor yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan produksi.
Namun demikian, pelaku pasar menilai penurunan stok tersebut belum cukup kuat untuk menopang harga dalam jangka pendek, terutama di tengah sinyal pelemahan permintaan global.
BACA JUGA: Akhir Pekan Stabil, Harga Karet SGX-SICOM Jumat (10/4) Naik Tipis ke Rp34.963/Kg
Hal ini tercermin dari data surveyor kargo yang menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1–10 April mengalami penurunan signifikan, yakni berkisar antara 30,7% hingga 38,9% dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan tajam ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap melemahnya serapan global.
Di pasar domestik, harga CPO melalui tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) juga menunjukkan tren penurunan. Pada Jumat (10/4/2026), harga CPO mengalami withdraw (WD) dengan penawaran tertinggi sebesar Rp15.589/kg.
BACA JUGA: Serangga Penyerbuk Baru Dilepas, Babak Baru Produktivitas Sawit Dimulai
Angka tersebut turun Rp189/kg atau sekitar 1,2% dibandingkan posisi Kamis (9/4/2026) yang mencapai Rp16.778/kg. Koreksi ini mencerminkan tekanan yang turut dirasakan pasar domestik seiring melemahnya harga global.
Sementara itu, pergerakan minyak nabati lainnya cenderung bervariasi. Harga kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian tercatat naik 0,4%, sedangkan kontrak minyak sawitnya menguat tipis 0,11%. Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade justru melemah sebesar 0,87%.
BACA JUGA: Uji B50 di Sektor Tambang Tunjukkan Hasil Positif, Langkah Indonesia Menuju Energi Mandiri
Secara keseluruhan, pasar minyak nabati global saat ini berada dalam fase konsolidasi dengan tekanan jangka pendek yang cukup kuat. Pelaku pasar kini mencermati perkembangan produksi, dinamika permintaan, serta situasi geopolitik yang berpotensi menentukan arah harga CPO dalam beberapa pekan ke depan. (A3)