Inovasi pakan ayam berbasis probiotik dan antikoksi dari IPB dinilai berpotensi meningkatkan produktivitas ternak dan siap didorong ke tahap hilirisasi skala besar. Foto: Istimewa
AGRICOM, BOGOR — Upaya percepatan hilirisasi riset di sektor pertanian terus diperkuat oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah pakan ayam berbasis probiotik dan antikoksi yang dikembangkan peneliti IPB University, Ivan Taufik Nugraha.
Inovasi ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi pakan sekaligus memperbaiki kesehatan ternak. Selain itu, formulasi tersebut juga diklaim mampu mempercepat pertumbuhan ayam serta meningkatkan produksi dan bobot telur secara signifikan.
Ivan menjelaskan, penggunaan probiotik dalam pakan dapat meningkatkan kesehatan sistem pencernaan ayam, sehingga penyerapan nutrisi menjadi lebih optimal. Dampaknya tidak hanya pada pertumbuhan bobot badan yang lebih cepat, tetapi juga pada peningkatan kualitas produksi telur.
BACA JUGA: Kementan Jaga Harga Kedelai Stabil, Pelaku Usaha Sepakati HAP Rp11.500/Kg
“Pakannya enggak terlalu banyak, satu bisa meningkatkan kesehatan pencernaannya. Lalu yang kedua bisa meningkatkan bobot badan dengan cepat, dan bisa menambah massa dari telur ayam. Biasanya bobot telur bisa nambah 20 sampai 30 persen,” ujarnya, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Minggu, (12/4/1026).
Menurutnya, salah satu tantangan utama dalam budidaya ayam adalah serangan penyakit koksidiosis yang kerap menyebabkan diare parah hingga kematian massal dalam satu kandang. Untuk itu, riset yang dikembangkan kini diarahkan pada formulasi pakan berbasis antikoksi.
“Kalau per hari ini kita mengarahnya ke antikoksi, jadi untuk mencegah ayam sakit. Koksidiosis itu menyebabkan diare parah dan bisa menyebabkan kematian cukup tinggi, serta menyebar dalam satu kandang. Dengan adanya antikoksi ini, kesehatan ayam bisa meningkat,” jelas Ivan.
BACA JUGA: PTPN IV PalmCo Siap Uji Coba Serangga Penyerbuk Tanzania untuk Dongkrak Produktivitas Sawit
Lebih jauh, inovasi ini juga menyasar peningkatan performa ayam kampung yang selama ini dikenal memiliki pertumbuhan lebih lambat dibanding ayam ras. Dengan pendekatan nutrisi yang tepat, Ivan optimistis ayam kampung dapat dipacu pertumbuhannya secara signifikan.
“Harapannya ayam kampung bisa meningkatkan bobot badannya lebih cepat. Jadi seperti yang Pak Menteri bilang, dalam 40 harian bisa mencapai satu kilogram,” tambahnya.
Ivan juga menyoroti pentingnya optimalisasi sistem pencernaan ayam sebagai kunci utama peningkatan produktivitas. Ia menjelaskan bahwa selama ini banyak nutrisi yang tidak terserap optimal, yang ditandai dengan bau menyengat pada kandang.
BACA JUGA: Serangga Penyerbuk Baru Dilepas, Babak Baru Produktivitas Sawit Dimulai
“Sebetulnya yang kita lihat, ketika kandang bau, artinya proteinnya tidak terserap dengan optimal. Nah, dengan adanya tambahan probiotik dalam produk kami, nutrisi bisa diserap lebih banyak,” ungkapnya.
Menurutnya, probiotik bekerja hingga ke tingkat vili usus, meningkatkan penyerapan nutrisi secara maksimal dan berdampak langsung pada efisiensi pakan serta kualitas lingkungan kandang.
“Masuk ke vili-vili usus, kemudian diserap. Saat keluar, aromanya berkurang karena proteinnya terserap secara maksimal,” jelasnya.
BACA JUGA: Uji B50 di Sektor Tambang Tunjukkan Hasil Positif, Langkah Indonesia Menuju Energi Mandiri
Sementara itu Mentan Amran menegaskan bahwa riset harus berorientasi pada solusi nyata dan berdampak ekonomi. Dalam kunjungannya ke Science Techno Park IPB, Bogor, Mentan menyoroti potensi besar pengembangan ayam unggul berbasis riset IPB, termasuk percepatan pertumbuhan ayam kampung.
“Kalau ayam kampung bisa dipercepat, misalnya 30–40 hari sudah satu kilogram, itu luar biasa. Ini yang harus kita kejar,” ujarnya.
Mentan Amran bahkan menyatakan kesiapan pemerintah untuk mendukung hilirisasi inovasi, termasuk menyerap hasil riset dalam skala besar jika terbukti berhasil di lapangan.
BACA JUGA: Benahi Gula dari Hulu ke Hilir, Mentan Amran Andalkan Tiga Strategi Utama
“Kalau bisa capai target, saya siap bawa ke Presiden, kita beli. Jangan ragu. Ini peluang besar,” tegasnya.
Dorongan tersebut menjadi energi tambahan bagi para peneliti untuk memastikan bahwa setiap inovasi tidak berhenti di laboratorium, melainkan benar-benar hadir sebagai solusi bagi peternak dan mendorong kesejahteraan masyarakat. (A3)