Uji kompetensi yang diikuti mahasiswa beasiswa SDM PKS di INSTIPER Yogyakarta menjadi langkah strategis untuk memastikan kesiapan lulusan sebagai asisten kebun profesional di industri perkebunan sawit. Foto: Instiper/ Agricom
AGRICOM, YOGYAKARTA – Institut Pertanian Stiper Yogyakarta menyelenggarakan uji kompetensi bagi 56 mahasiswa penerima beasiswa SDM PKS angkatan pertama, sebagai bagian dari upaya menyiapkan tenaga profesional di sektor perkebunan kelapa sawit.
Uji kompetensi ini difokuskan pada okupasi asisten kebun kelapa sawit dan dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Perkebunan dan Hortikultura Indonesia (LSP PHI). Para peserta menjalani serangkaian tahapan penilaian, mulai dari tes tertulis hingga uji instruksi terstruktur yang dirancang untuk mengukur kesiapan mereka secara komprehensif.
BACA JUGA: Sinergi Kampus dan Industri, Pabrik Kelapa Sawit Teknologi SPOT Mulai Dibangun di Yogyakarta
Secara substansi, uji kompetensi ini bertujuan menilai kemampuan teknis, pengetahuan, serta sikap kerja mahasiswa agar sesuai dengan standar industri perkebunan. Melalui proses ini, peserta diharapkan mampu membuktikan kapasitasnya dalam mengelola afdeling atau unit kebun secara profesional dan efisien.
Kegiatan berlangsung selama dua hari di kampus INSTIPER Yogyakarta, dengan menghadirkan tiga asesor berpengalaman, Andi Yusuf Akbar, S.Sos., M.I.Kom, Ir. Heri Moerdiono, M.Eng, dan Dr. Ir.Lili Dahliani, MM.,M.Si.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN dan Bursa Malaysia Melemah Pada Selasa (14/4)
Acara uji kompetensi ini dibuka oleh Rektor INSTIPER Yogyakarta, Dr. Ir. Harsawardana. M.Eng. Dalam sambutannya beliau menyampaikan, sertifikasi dan uji kompetensi merupakan bagian dari penyelenggaraan pendidikan bagi mahasiswa penerima beasiswa SDM PKS yang dibiayai oleh BPDP.
“Selama berkuliah di INSTIPER, mahasiswa penerima beasiswa mengikuti serangkaian kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi melalui kegiatan perkuliahan dan praktikum, praktek lapang dan magang, dan juga mengikuti kegiatan ko-kurikuler yang didesain untuk membekali mahasiswa dengan skill tertentu’ kata Rektor, dalam keterangan yang diterima Agricom.id, Selasa (14/4).
BACA JUGA: Kementan Percepat Hilirisasi Pertanian, Dorong Biofuel dan Bioetanol untuk Kemandirian Energi
“Sertifikat kompetensi yang akan diterima mahasiswa merupakan sertifikat pendamping ijazah. Melalui uji kompetensi ini mahasiswa dapat membuktikan kompetensinya di bidang perkebunan seperti yang dipelajari selama mereka kuliah,” tambahnya.
Sertifikat kompetensi asisten kebun merupakan bukti nyata keahlian atau kompetensi seseorang dalam melakukan manajemen budidaya komoditas perkebunan pada level asisten. Kepemilikan sertifikat kompetensi dapat menjadi daya tawar seseorang saat akan memasuki dunia kerja.
BACA JUGA: Kawal Hilirisasi Ayam di Sulsel, Kementan Tegaskan MoU Harus Berujung Aksi Nyata
Dalam pesannya kepada peserta, Dr. Harsawardana mendorong para mahasiswa untuk memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan sektor perkebunan nasional setelah lulus nanti. Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam memperkuat industri sawit Indonesia secara berkelanjutan.
“Berikan kontribusi nyata kalian bagi perkebunan Indonesia setelah nanti lulus dan memiliki sertifikat kompetensi. Baik itu kembali ke masyarakat untuk membangun perkebunan rakyat atau bekerja secara profesional di perusahaan,” pungkasnya.
BACA JUGA: BRIN Kembangkan Teknologi Gula Semut dari Sorgum, Dorong Alternatif Gula Lokal
Mahasiswa yang mengikuti uji kompetensi hari ini telah menyelesaikan tugas akhir penulisan skripsi dan telah mengikuti yudisium dan akan akan diwisuda pada periode Mei 2026. Pada saat lulus nantinya mahasiswa akan memperoleh ijazah dan sertifikat kompetensi sebagai asisten kebun sebagai sertifikat pendamping ijazah. (A3)