AGRICOM, JAKARTA – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) resmi membuka program Grant Riset BPDP 2026 dengan menitikberatkan pada penelitian yang mampu memberikan dampak nyata bagi pengembangan komoditas strategis nasional, terutama sawit, kelapa, dan kakao. Program ini diarahkan untuk mendorong inovasi dari sektor hulu hingga hilir agar semakin kompetitif dan bernilai tambah tinggi.
Perubahan nama dari Grant Riset Sawit menjadi Grant Riset BPDP menandai perluasan cakupan dukungan pendanaan riset yang kini tidak hanya terfokus pada sawit, tetapi juga komoditas perkebunan strategis lainnya. Langkah ini dinilai sebagai upaya memperkuat ekosistem riset nasional berbasis kebutuhan industri dan pembangunan berkelanjutan.
Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, mengatakan antusiasme akademisi dan lembaga penelitian terhadap program ini terus meningkat dari tahun ke tahun.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO Mei 2026 Naik Jadi USD 1.049,58/MT, Bea Keluar Dipatok USD 178
“Antusiasme peneliti dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian sangat besar. Tahun terakhir saja proposal yang masuk mencapai lebih dari 1.400. Dengan cakupan riset yang kini lebih luas, kemungkinan jumlah proposal tahun ini akan semakin banyak,” ungkap Mohammad Alfansyah dalam acara yang dihadiri Agricom.id, Kamis (30/4/2026).
Menurutnya, tingginya minat tersebut menunjukkan bahwa kalangan perguruan tinggi dan peneliti melihat BPDP sebagai mitra strategis dalam mendukung riset terapan yang memiliki peluang implementasi di lapangan. Karena itu, BPDP ingin memastikan penelitian yang didanai benar-benar mampu menjawab tantangan industri.
Grant Riset BPDP 2026 difokuskan pada inovasi yang dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, kualitas produk, serta mempercepat hilirisasi komoditas perkebunan. Penelitian tidak diharapkan berhenti sebagai kajian akademik semata, melainkan dapat diadopsi pelaku usaha, pemerintah, maupun masyarakat.
BACA JUGA: Harga Referensi Biji Kakao Periode Mei 2026 Naik, HPE Tembus USD 2.963/MT
BPDP menilai hasil riset harus mampu menciptakan solusi konkret, mulai dari pengembangan bibit unggul, teknologi budidaya, pengolahan produk turunan, hingga penguatan rantai pasok dan keberlanjutan industri perkebunan nasional. Dengan begitu, dana riset yang disalurkan memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang lebih luas.
“Apa pun riset yang dilakukan harus diarahkan pada penguatan, pengembangan, dan peningkatan produk. Yang kami harapkan adalah riset yang menghasilkan dampak nyata terhadap pengembangan komoditas tersebut,” jelasnya.
Selain kualitas substansi penelitian, BPDP juga memberi perhatian serius pada kelengkapan administrasi proposal. Pada seleksi tahun sebelumnya, sejumlah proposal dinyatakan gugur pada tahap awal karena tidak memenuhi persyaratan administrasi, sehingga isi penelitian tidak dapat masuk tahap penilaian lebih lanjut.
BACA JUGA: Mentan Amran Sidak Pembibitan Kelapa di Manado, Temukan Ketidaksesuaian Data dan Bibit Tak Layak
Karena itu, calon peserta diminta lebih cermat menyiapkan dokumen pendukung, metodologi penelitian, jadwal pelaksanaan, hingga rencana luaran yang jelas. Ketelitian pada tahap administrasi dinilai menjadi pintu awal agar proposal memiliki peluang bersaing di tahap evaluasi berikutnya.
Dalam proses seleksi 2026, BPDP memastikan penilaian dilakukan secara independen dan objektif. Komite Litbang diminta tidak melayani konsultasi spesifik terkait substansi proposal selama masa pengajuan berlangsung hingga Juni mendatang. Kebijakan ini diterapkan untuk menjaga fairness dan integritas seleksi.
Seluruh proposal akan dinilai berdasarkan kualitas ide, relevansi dengan kebutuhan sektor perkebunan, serta potensi implementasinya. Dengan mekanisme tersebut, BPDP berharap seluruh peserta memiliki kesempatan yang sama tanpa adanya perlakuan khusus.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Naik Tipis, Periode Awal Mei Capai Rp3.921,77/Kg
BPDP juga akan mempertimbangkan rekam jejak institusi pengusul. Perguruan tinggi maupun lembaga penelitian akan dievaluasi berdasarkan hasil riset sebelumnya, kualitas output, ketepatan waktu pelaporan, serta komitmen menyelesaikan proyek sesuai target yang telah ditetapkan.
Untuk memperluas jangkauan informasi, BPDP berencana menggelar sosialisasi langsung di sejumlah wilayah seperti Bandung, Jawa Tengah, Medan, Aceh, hingga kawasan Indonesia Timur. Pendekatan klasterisasi perguruan tinggi disiapkan agar informasi program dapat diterima lebih merata di berbagai daerah.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Turun, Periode 29 April–5 Mei 2026 Dipatok Rp3.906,24/Kg
Melalui langkah tersebut, BPDP berharap semakin banyak proposal berkualitas masuk pada tahun ini. Fokus utama tetap pada riset yang memiliki peluang komersialisasi, mendukung kebijakan strategis nasional, dan memperkuat daya saing sektor sawit, kelapa, serta kakao Indonesia di pasar global. (A2)