Kenaikan tipis harga TBS di Jambi pada awal Mei 2026 mencerminkan stabilitas pasar, dengan dukungan harga CPO dan kernel yang relatif terjaga. Foto: Agricom
AGRICOM, JAMBI – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Jambi mencatat kenaikan tipis pada periode 1–7 Mei 2026. Kenaikan ini terjadi pada kelompok usia tanaman produktif, seiring hasil penetapan resmi tim harga TBS tingkat provinsi.
Untuk harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan sebesar Rp 15.045,79/Kg, sementara harga inti sawit (kernel) mencapai Rp 16.462,33/Kg. Adapun indeks K tercatat sebesar 95,02%, yang menjadi salah satu faktor penting dalam perhitungan harga TBS di tingkat petani.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Naik Tipis, Periode Awal Mei Capai Rp3.921,77/Kg
Untuk tanaman sawit usia 10 hingga 20 tahun, harga TBS disepakati naik sebesar Rp 9,45 per kilogram menjadi Rp 3.903,88/Kg. Meski kenaikannya relatif terbatas, angka ini menunjukkan adanya perbaikan harga dibandingkan periode sebelumnya.
Berdasarkan data yang diperoleh Agricom.id dari Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, harga TBS untuk berbagai kelompok umur juga mengalami penyesuaian. Untuk tanaman berusia 3 tahun ditetapkan sebesar Rp 3.024,96/Kg, usia 4 tahun Rp 3.262,62/Kg, dan usia 5 tahun Rp 3.400,37/Kg.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Turun, Periode 29 April–5 Mei 2026 Dipatok Rp3.906,24/Kg
Sementara itu, harga TBS untuk usia 6 tahun mencapai Rp 3.641,06/Kg, usia 7 tahun Rp 3.630,13/Kg, dan usia 8 tahun Rp 3.709,40/Kg. Untuk usia 9 tahun, harga tercatat Rp 3.781,11/Kg, sebelum mencapai level tertinggi pada rentang usia 10–20 tahun sebesar Rp 3.903,88/Kg.
Pada kelompok tanaman yang lebih tua, harga tercatat Rp 3.790,72/Kg untuk usia 21 hingga 24 tahun, serta Rp 3.824,73/Kg untuk usia 25 tahun.
Kenaikan tipis ini menunjukkan bahwa pasar sawit di Jambi cenderung stabil pada awal Mei, dengan dukungan harga produk turunan yang masih berada pada level kompetitif. Bagi petani, meski kenaikan belum signifikan, tren positif ini tetap menjadi sinyal menjaga optimisme di tengah fluktuasi harga yang masih terjadi di sektor perkebunan. (A3)