Prabowo di PENAS XVII: Swasembada Pangan Tercapai, Indonesia Siap Menuju Swasembada Energi

Prabowo di PENAS XVII: Swasembada Pangan Tercapai, Indonesia Siap Menuju Swasembada Energi
Agricom.id

24 June 2026 , 18:13 WIB

Dok. Tangkapan layar/ Presiden Prabowo Subianto menegaskan swasembada pangan telah menjadi capaian besar pemerintah. Dalam Puncak PENAS XVII di Gorontalo, ia juga menargetkan Indonesia mampu mencapai swasembada energi dalam tiga hingga empat tahun ke depan.

AGRICOM, GORONTALO – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan menjadi bukti bahwa bangsa ini mampu berdiri di atas kaki sendiri. Hal tersebut disampaikan Presiden saat menghadiri puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).

Dalam pidatonya di hadapan ribuan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, Prabowo menyebut sektor pangan sebagai fondasi utama kedaulatan bangsa. Menurutnya, tidak ada negara yang mampu bertahan tanpa ketahanan pangan yang kuat.

BACA JUGA: Presiden Prabowo Resmikan Aturan Baru Tata Kelola Ekspor SDA, Sawit hingga Batu Bara Wajib Lewat BUMN

"Petani dan nelayan adalah penghasil makanan, penghasil pangan. Tidak ada negara bisa berdiri, tidak ada negara bisa bertahan, bahkan tidak ada peradaban yang bisa bertahan tanpa pangan," kata Prabowo, dalam siaran langsung yang dipantau Agricom.id, Rabu (24/6).

Presiden mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan petani dan nelayan sejak dirinya aktif di organisasi tani. Sebelum menjabat Presiden, Prabowo pernah memimpin Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan kerap menghadiri kegiatan petani di berbagai daerah.

Ia juga mengenang bagaimana petani dan nelayan memberikan dukungan kepada para pejuang dan prajurit sejak masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

BACA JUGA: Presiden Prabowo Dorong Indonesia Jadi Penentu Harga Sawit Dunia, Bukan Sekadar Pemasok Global

"Tentara Indonesia selalu didukung oleh petani dan nelayan. Mereka memberi makanan kepada para pejuang, meskipun hidup mereka sendiri dalam kesulitan," ujarnya.

Menurut Prabowo, perjuangannya di dunia politik selama puluhan tahun dilandasi keinginan memperkuat kelompok masyarakat bawah, khususnya petani dan nelayan. Ia menilai selama bertahun-tahun kebijakan pembangunan ekonomi terlalu banyak berpihak kepada kelompok yang kuat dan mengabaikan kesejahteraan petani.

Presiden juga mengkritik pandangan yang mendorong impor pangan dengan alasan efisiensi. Menurutnya, ketahanan pangan merupakan bagian dari kedaulatan negara dan tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar.

BACA JUGA: Prabowo Apresiasi Mentan Amran, Indonesia Kini Dilirik Dunia untuk Pangan dan Pupuk

"Saya pernah mendengar pendapat bahwa kalau petani negara lain lebih efisien, lebih baik kita membeli dari mereka. Saya menilai pemikiran itu keliru karena negara merdeka harus mampu menyejahterakan rakyatnya sendiri," tegasnya.

Prabowo mengatakan bahwa Indonesia kini telah mencapai swasembada pangan. Produksi beras dan jagung nasional disebut mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

"Kita swasembada pangan. Produksi beras dan jagung kita tertinggi sepanjang negara kita berdiri," ujarnya.

BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Turun Rp405/Kg Pada Rabu (24/6), Level Rp40 Ribu Kembali Diuji

Keberhasilan tersebut, lanjut Prabowo, merupakan hasil kerja bersama petani, nelayan, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta jajaran kementerian yang terlibat dalam pembangunan sektor pangan.

Presiden secara khusus memberikan apresiasi kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta aparat TNI dan Polri yang ikut mendukung peningkatan produksi pangan nasional.

Selain ketahanan pangan, Prabowo menegaskan pemerintah juga tengah mempercepat upaya mencapai swasembada energi. Salah satu langkah strategis yang akan dilakukan adalah peluncuran biodiesel B50 yang menggunakan campuran 50 persen minyak sawit.

BACA JUGA: Harga CPO Terkoreksi pada Selasa (23/6), KPBN Withdraw dan Bursa Malaysia Melemah

"Bulan Juli ini kita akan meluncurkan B50. Solar akan kita olah dari kelapa sawit 50 persen. Dengan demikian kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri," kata Presiden.

Menurutnya, pemanfaatan kelapa sawit sebagai sumber energi akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar dan sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas sawit nasional.

Prabowo memperkirakan Indonesia dapat mencapai swasembada energi dalam tiga hingga empat tahun ke depan apabila program hilirisasi dan energi terbarukan berjalan sesuai rencana.

BACA JUGA: Kementan Perkuat Hilirisasi Kakao, Peluang Ekspor Cocoa Butter ke Australia Semakin Terbuka

Presiden juga menyinggung pentingnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Ia menilai persoalan kelaparan masih menjadi ancaman serius di dunia. Karena itu, negara harus hadir untuk memastikan seluruh rakyat mendapatkan akses pangan yang memadai.

Menutup pidatonya, Prabowo mengajak petani dan nelayan untuk terus bekerja keras dan menjaga persatuan nasional.

"Tani dan nelayan sesungguhnya adalah tulang punggung republik ini. Kalau kita bersatu, Indonesia tidak akan goyah dan Indonesia tidak akan gagal," pungkasnya. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP