Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan produksi dan stok pangan nasional tetap aman di tengah dinamika cuaca, dengan stok beras per Januari 2026 mencapai 3,3 juta ton—tertinggi sepanjang sejarah—didukung penguatan tata kelola air, pemantauan stok ketat, serta respons cepat di sentra produksi padi. Foto: Istimewa
AGRICOM, JAKARTA — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa produksi dan stok pangan nasional berada dalam kondisi aman, meskipun sejumlah wilayah di Indonesia tengah menghadapi dinamika cuaca dengan intensitas hujan tinggi. Pemerintah, menurutnya, telah mengantisipasi potensi dampak cuaca melalui penguatan pengendalian produksi serta pemantauan stok pangan secara ketat.
Mentan Amran menyampaikan, stok beras nasional per Januari 2026 mencapai 3,3 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Capaian tersebut menjadi indikator kuat bahwa stabilitas produksi pangan nasional tetap terjaga di tengah tantangan iklim.
BACA JUGA: HKTI Optimis Produksi Beras 2026 Tetap Aman Meski Tekanan Iklim Meningkat
“Insya Allah tidak berpengaruh sama sekali. Stok kita sekarang 3,3 juta ton. Itu tidak pernah terjadi selama Indonesia merdeka,” ujar Mentan Amran, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Minggu (8/2).
Ia menambahkan, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, serapan beras oleh pemerintah mengalami lonjakan signifikan. Pada Januari tahun lalu, serapan hanya sekitar 14.000 ton, sementara pada Januari 2026 meningkat menjadi 112.000 ton atau naik sekitar 700 persen.
“Kenaikan ini menunjukkan sistem pangan nasional tetap kuat meskipun menghadapi dinamika cuaca,” ungkapnya.
BACA JUGA: Lantik 55 Pejabat, Mentan Amran Gaspol Reformasi dan Produksi Pertanian
Menurut Mentan Amran, curah hujan tinggi justru dapat menjadi faktor pendukung percepatan tanam selama pengelolaan tata air berjalan optimal. Tantangan terbesar sektor pertanian, kata dia, justru terjadi saat kekeringan ekstrem seperti fenomena El Nino.
“Cuaca ini berkah karena mendukung tanam. Tantangan terbesar justru ketika terjadi kekeringan seperti El Nino,” tegasnya.
Memasuki awal 2026, Kementerian Pertanian terus melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi produksi dan stok pangan nasional, terutama di wilayah sentra produksi padi. Hasil pemantauan menunjukkan produksi di Pulau Jawa—sebagai lumbung pangan utama nasional—masih berada dalam kondisi relatif aman. Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat tetap mencatat kinerja produksi yang baik, meskipun terdapat laporan banjir di beberapa titik.
BACA JUGA: Antisipasi Cuaca Ekstrem, Kemendag Percepat Distribusi Bapok Jelang Ramadan–Idulfitri 1447 H
Sebagai langkah mitigasi, Kementan memanfaatkan informasi prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai dasar pengambilan kebijakan. Pendekatan antisipatif ini dinilai mampu menekan potensi dampak curah hujan tinggi agar tidak mengganggu ketersediaan pangan nasional.
Di tingkat lapangan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan melakukan peninjauan langsung ke lahan pertanian yang terdampak genangan di Kabupaten Bekasi dan Karawang. Kegiatan tersebut dipimpin Direktur Jenderal Tanaman Pangan Yudi Sastro atas arahan Menteri Pertanian.
Dalam kunjungan tersebut, Dirjen Tanaman Pangan meminta dinas pertanian setempat segera mengusulkan bantuan benih bagi petani terdampak agar tanam ulang dapat dilakukan secepatnya dan kontinuitas produksi tetap terjaga. Bantuan diprioritaskan untuk wilayah yang mengalami genangan guna menekan risiko gagal panen serta memastikan gangguan bersifat lokal tidak berdampak pada produksi pangan nasional.
Selain bantuan benih, pemerintah daerah juga diminta mengajukan program normalisasi saluran air dan irigasi sebagai langkah jangka menengah dan panjang untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan.
Kementerian Pertanian menegaskan bahwa penguatan tata kelola air, pemanfaatan informasi iklim, serta respons cepat di lapangan menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas produksi dan stok pangan nasional di tengah dinamika iklim yang terus berkembang. (A3)