Kontrak CPO April 2026 di Bursa Malaysia turun 1,51% setelah rilis data MPOB menunjukkan penurunan stok Januari, sementara ekspor awal Februari melemah dan harga minyak nabati pesaing di Dalian serta Chicago ikut terkoreksi. Foto: Agricom
AGRICOM, KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali terkoreksi pada perdagangan Selasa (10/2/2026). Pelemahan terjadi setelah rilis data terbaru Malaysian Palm Oil Board (MPOB), di tengah tekanan berkelanjutan dari turunnya harga minyak nabati pesaing di pasar global.
Kontrak acuan CPO pengiriman April 2026 ditutup turun RM63 per ton atau melemah 1,51% menjadi RM4.097 per ton. Koreksi ini mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi faktor fundamental domestik dan sentimen eksternal, seperti dikutip dari Reuters.
BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Menguat Pada Senin (9/2), Pasar Menanti Data MPOB dan Arah Outlook Analis
Berdasarkan laporan MPOB, stok minyak sawit Malaysia pada Januari 2026 tercatat turun 7,72% dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan tersebut menjadi yang pertama dalam 11 bulan terakhir. Penyusutan stok terutama dipicu oleh lonjakan ekspor, meskipun produksi pada periode yang sama turun hingga menyentuh level terendah dalam 10 bulan.
Namun, tren ekspor mulai menunjukkan perlambatan pada awal Februari. Data perusahaan inspeksi independen AmSpec Agri Malaysia mencatat ekspor produk minyak sawit Malaysia periode 1–10 Februari turun 14,3% menjadi 399.995 ton, dibandingkan 466.457 ton pada periode yang sama bulan sebelumnya. Pelemahan ini memunculkan kekhawatiran terhadap prospek permintaan jangka pendek.
BACA JUGA: Lelang CPO KPBN Inacom Senin (9/2) Berakhir WD, Dengan Penawaran Tertinggi Rp 14.500 per kg
Dari sisi eksternal, pasar CPO juga terbebani oleh pergerakan harga minyak nabati pesaing. Di Dalian Commodity Exchange, kontrak minyak kedelai paling aktif turun 0,3%, sementara kontrak minyak sawit melemah 0,69%. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai turut terkoreksi 0,64%.
Kondisi ini menegaskan bahwa harga CPO masih sangat dipengaruhi dinamika minyak nabati global, mengingat ketatnya persaingan dalam memperebutkan pangsa pasar internasional, terutama di tengah fluktuasi permintaan dan pergerakan mata uang.
BACA JUGA: Harga Karet SGX–Sicom Selasa (10/2) Naik Rp 227 per Kg
Selain tekanan jangka pendek, industri sawit Malaysia juga menghadapi tantangan struktural. Luas perkebunan sawit berusia tua diperkirakan meningkat menjadi sekitar 2 juta hektare pada 2027, dari sekitar 1,7 juta hektare saat ini. Peningkatan areal tanaman tua berpotensi menekan produktivitas dan output nasional apabila tidak diimbangi percepatan program peremajaan.
Dengan kombinasi tekanan global, perlambatan ekspor awal bulan, serta tantangan produktivitas jangka panjang, pergerakan harga CPO dalam waktu dekat diperkirakan tetap sensitif terhadap data permintaan dan perkembangan pasar minyak nabati dunia. (A3)