Produksi Gula 2,67 Juta Ton pada 2025, Pemerintah Percepat Target Swasembada 2027

Produksi Gula 2,67 Juta Ton pada 2025, Pemerintah Percepat Target Swasembada 2027
Agricom.id

19 February 2026 , 11:46 WIB

Didukung produksi tebu 39,07 juta ton dan produktivitas 69,35 ton per hektare, pemerintah mempercepat peningkatan varietas unggul, revitalisasi pabrik gula, serta perluasan areal tanam guna menekan impor dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Foto: Istimewa

 

AGRICOM, JAKARTA — Kementerian Pertanian melaporkan kinerja positif sektor pergulaan nasional sepanjang 2025. Hingga akhir musim giling, produksi gula dalam negeri tercatat mencapai 2,67 juta ton atau sekitar 97,54 persen dari target tahunan, mempertegas tren peningkatan produksi nasional.

Kenaikan produksi gula tersebut ditopang oleh lonjakan produksi tebu yang mencapai 39,07 juta ton pada 2025, dengan produktivitas rata-rata 69,35 ton per hektare. Capaian ini melampaui target Rencana Strategis (Renstra) Perkebunan dan mencerminkan dampak berbagai program penguatan di sektor hulu.

Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah akan terus mengakselerasi peningkatan produksi tebu untuk mewujudkan swasembada gula dan menekan ketergantungan impor. Mengacu pada Roadmap Swasembada Gula Nasional sesuai Kepmenko Nomor 418 Tahun 2023, produksi gula ditargetkan meningkat menjadi 3,27 juta ton pada 2027.

BACA JUGA: Harga Karet SGX–SICOM Rabu (18/2) Masih Naik, Tertinggi Rp 32.330/Kg

“Swasembada gula adalah keharusan. Fokus kami meningkatkan produktivitas, memperluas areal tanam, menyediakan benih unggul, serta memodernisasi industri gula,” ujarnya.

“Swasembada gula adalah keharusan. Pemerintah fokus meningkatkan produktivitas tebu, memperluas areal, menyediakan benih unggul, serta melakukan modernisasi industri gula,” kata Mentan Amran, dikutip Agricom.id dalam keterangannya.

Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat menjelaskan bahwa capaian produksi tebu 2025 didorong oleh berbagai program strategis, antara lain bongkar ratoon, penggunaan varietas tebu unggul, serta pendampingan teknis yang intensif kepada petani.

BACA JUGA: Ekspor Kakao Capai US$2,65 Miliar, Pemerintah Percepat Hilirisasi dan Peremajaan Kebun Rakyat

“Capaian ini didorong berbagai intervensi pemerintah, mulai dari bongkar ratoon, penggunaan varietas unggul, hingga pendampingan petani,” kata Roni.

Roni menambahkan bahwa pemerintah juga mendorong varietas tebu unggul dan memperkuat sistem perbenihan nasional untuk mewujudkan swasembada gula nasional. Dari sisi wilayah, Jawa Timur masih menjadi sentra utama produksi tebu nasional, diikuti Lampung dan Jawa Tengah. Selain itu, pengembangan kawasan tebu juga terus diperluas di sejumlah provinsi lain, seperti Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur sebagai bagian dari strategi ekstensifikasi.

Kementerian Pertanian juga memperkuat sistem perbenihan nasional guna memastikan ketersediaan varietas unggul, sekaligus mendorong peningkatan efisiensi pabrik gula melalui program revitalisasi. Dukungan pembiayaan melalui KUR Khusus Tebu, penyediaan alat dan mesin pertanian, serta penguatan kelembagaan petani menjadi bagian dari upaya terintegrasi dari hulu hingga hilir.

BACA JUGA: Kementan Percepat Hilirisasi Jagung Pangan, Bidik Swasembada dan Pasokan Industri 2026

Meski dihadapkan pada tantangan seperti perubahan iklim, keterbatasan lahan, dan efisiensi industri gula, pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat peningkatan produksi nasional. Respons petani terhadap program pengembangan tebu pun dinilai positif karena berdampak langsung pada peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, dan peluang peningkatan pendapatan.

Dengan capaian produksi gula dan tebu yang terus meningkat sepanjang 2025, Kementerian Pertanian berharap target swasembada gula nasional dapat dicapai sesuai peta jalan yang telah ditetapkan. Pemerintah memastikan penguatan produksi dari hulu hingga hilir akan terus dilanjutkan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga gula dalam negeri tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan konsumsi nasional, tetapi juga memperkuat kesejahteraan petani tebu dan ketahanan pangan nasional. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP