AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka di Malaysia kembali menguat pada perdagangan Jumat (13/3), melanjutkan tren kenaikan untuk dua pekan berturut-turut. Penguatan ini terutama dipicu oleh kenaikan harga minyak nabati pesaing di pasar global, khususnya di bursa komoditas Dalian, Tiongkok.
Sebagaimana dilansir dari Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives tercatat naik MYR 56 atau sekitar 1,23% menjadi MYR 4.597 per ton, atau setara sekitar USD 1.169,42 per ton, pada jeda perdagangan tengah hari.
Secara mingguan, kontrak CPO berjangka tersebut telah mencatat kenaikan sekitar 5,27%, menandakan sentimen pasar yang semakin positif terhadap komoditas minyak sawit.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Kamis (12/3) Naik, Sentimen Energi Global dan Biodiesel Dorong Optimisme Pasar
Kenaikan harga sawit juga mengikuti pergerakan minyak nabati lain di pasar Asia. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian Commodity Exchange meningkat 1,27%, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama naik 1,34%. Sebaliknya, kontrak minyak kedelai di Chicago Board of Trade tercatat sedikit melemah sekitar 0,04%.
Pergerakan harga sawit umumnya mengikuti tren minyak nabati pesaing karena komoditas tersebut saling bersaing dalam memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Selain itu, pasar juga dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang menuju penguatan mingguan. Sentimen pasar sempat dipengaruhi langkah Amerika Serikat yang memberikan izin sementara selama 30 hari bagi negara-negara tertentu untuk membeli minyak dan produk petrokimia Rusia yang sebelumnya tertahan di laut, guna meredakan kekhawatiran gangguan pasokan.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN 12 Maret 2026 Naik 1,82% ke Rp 15.655/Kg, Didorong Reli Minyak mentah
Dari sisi domestik Indonesia, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia memperkirakan uji jalan program biodiesel B50—yang menggunakan campuran 50% biodiesel berbasis sawit—tidak akan selesai lebih cepat dari target yang ditetapkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yakni sekitar Juni hingga Juli mendatang.
Sementara itu, produksi CPO Indonesia diproyeksikan meningkat pada tahun depan. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia memperkirakan produksi minyak sawit mentah nasional dapat mencapai 51,66 juta ton pada 2025, naik sekitar 7,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Permintaan global juga menunjukkan tren positif. Di India, impor minyak sawit meningkat 11% pada Februari, mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh selisih harga yang lebih kompetitif dibandingkan minyak nabati lain, sehingga mendorong industri pengolahan meningkatkan pembelian sekaligus mengurangi impor minyak bunga matahari.
BACA JUGA: Harga Karet SGX–SICOM Jumat (13/3) Turun Lagi, Tertinggi Rp 33.311/Kg
Di sisi lain, pemerintah Malaysia juga menaikkan harga referensi ekspor minyak sawit untuk April, yang secara otomatis meningkatkan tarif bea ekspor menjadi 9,5%, sebagaimana tercantum dalam surat edaran resmi yang diterbitkan oleh Malaysian Palm Oil Board.
Analis teknikal Reuters, Wang Tao, menilai harga CPO berpotensi menembus level resistensi di kisaran 4.615 ringgit per ton. Jika berhasil melewati level tersebut, harga diperkirakan dapat bergerak menuju kisaran MYR 4.657 hingga MYR 4.685 per ton. (A3)