Presiden Prabowo Tegaskan Kemandirian Pangan Sebagai Pilar Utama Bangsa


AGRICOM, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat sektor pertanian sebagai fondasi utama kedaulatan bangsa. Menurutnya, ketahanan pangan merupakan syarat mutlak bagi Indonesia untuk benar-benar mandiri di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

Dalam pernyataannya pada program Presiden Menjawab di Mata Najwa, Prabowo menekankan bahwa sebuah negara tidak dapat dikatakan sepenuhnya merdeka jika masih bergantung pada pasokan pangan dari luar.

“Kalau kita ingin benar-benar merdeka, kita harus mampu menjamin kebutuhan pangan kita sendiri,” tegas Presiden Prabowo, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Minggu (22/03/2026).

BACA JUGA: Dorong Nilai Tambah dan Lapangan Kerja, Mentan Amran Tancap Gas Hilirisasi Pertanian

Ia juga mengingatkan bahwa gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran Soekarno yang sejak awal kemerdekaan telah menempatkan sektor pertanian sebagai prioritas pembangunan nasional. Menurut Prabowo, kekuatan pangan menjadi fondasi penting bagi kemandirian suatu negara.

“Bung Karno selalu bicara pertanian,” katanya.

Sebagai langkah konkret, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi melalui optimalisasi lahan, pembangunan infrastruktur irigasi, serta penguatan sumber daya manusia di sektor pertanian. Selain itu, riset dan inovasi juga diperkuat, termasuk melalui kontribusi lembaga pendidikan seperti IPB University.

BACA JUGA: Mudik Gratis 2026, Agrinas Palma Nusantara Fasilitasi 400 Pemudik ke Jawa dan Sumatera

Sebagai bentuk konkret, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi pertanian melalui optimalisasi lahan, pembangunan infrastruktur irigasi, serta penguatan sumber daya manusia pertanian. Selain itu, pengembangan riset dan inovasi juga menjadi perhatian utama, termasuk melalui peran institusi pendidikan seperti IPB University.

Sejalan dengan hal itu, Presiden menyoroti perubahan lanskap global yang semakin terhubung, di mana setiap konflik di satu kawasan dapat berdampak luas terhadap negara lain. Ia mencontohkan Perang Rusia-Ukraina yang memicu lonjakan harga pangan dunia akibat terganggunya pasokan gandum dan jagung.

“Perang Ukaraina berdampak ke kita karena gandum dan jagung naik,” katanya.

BACA JUGA: Kementan Perkuat Strategi Mitigasi Kekeringan, Jaga Produktivitas Perkebunan Nasional

Menurut Presiden, kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bahwa ketergantungan terhadap impor pangan memiliki risiko tinggi di tengah ketidakpastian global. Oleh karena itu, Indonesia harus memperkuat kemandirian pangan dengan memaksimalkan potensi dalam negeri.

Diketahui, pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat kebijakan strategis di sektor pertanian, termasuk peningkatan kesejahteraan petani, stabilisasi harga, serta jaminan distribusi pangan yang merata di seluruh wilayah Indonesia.

“Kalau 200 tahun lalu perang di Eropa tidak berpengaruh untuk kita. Biar saja Inggris sama Jerman perang atau Prancis dll. Sekarang perang di mana saja berpengaruh,” katanya.

BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Gelar Pasar Rakyat Ramadan, 5.600 Paket Sembako Disalurkan ke Masyarakat

Melalui langkah-langkah tersebut, pemerintah optimis Indonesia dapat mencapai kedaulatan pangan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat posisi bangsa di tengah tantangan global.

“Jadi sekali lagi, saya lihat kalau kita ingin merdeka kita harus menjamin sumber pangan kita,” jelasnya. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP