Penguatan CPO di Bursa Malaysia didorong sentimen geopolitik dan proyeksi penurunan produksi, sementara harga domestik Indonesia terkoreksi akibat withdraw tender KPBN. Foto: Agricom
AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup menguat pada perdagangan Kamis (2/4/2026), setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah serta ekspektasi penurunan produksi sawit selama Maret.
Dilansir dari Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juni 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik sebesar RM25 per ton atau sekitar 0,52% menjadi RM4.794 per ton pada penutupan perdagangan.
BACA JUGA: Harga CPO Global Lanjut Menguat, Sentimen B50 dan Ekspor Malaysia Jadi Penopang
Pelaku pasar saat ini menaruh perhatian pada rilis data resmi pasokan dan permintaan minyak sawit untuk periode Maret oleh Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang dijadwalkan pada 10 April mendatang. Laporan tersebut diperkirakan akan menjadi faktor penentu arah pergerakan harga dalam jangka pendek.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di pasar domestik. Harga CPO dalam tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) justru mengalami withdraw (WD), dengan penawaran tertinggi mencapai Rp16.135/kg. Angka ini tercatat turun Rp90/kg atau sekitar 0,55% dibandingkan harga pada Rabu (1/4/2026) yang berada di level Rp16.225/kg.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Kamis (2/4) Turun Tipis, Bursa Malaysia Justru Menguat
Aksi withdraw ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar domestik di tengah dinamika global yang belum stabil, termasuk fluktuasi harga minyak nabati pesaing dan ketidakpastian permintaan.
Di pasar minyak nabati global, pergerakan harga cenderung bervariasi. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian tercatat turun 0,48%, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah 0,28%. Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) justru menguat signifikan sebesar 1,62%.
BACA JUGA: Indonesia Dorong Kepentingan Pertanian dan Perikanan di WTO, Sejumlah Isu Strategis Belum Tuntas
Variasi pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar minyak nabati global masih berada dalam fase penyesuaian, dengan pelaku pasar terus mencermati faktor fundamental seperti pasokan, permintaan, serta perkembangan geopolitik yang memengaruhi sentimen perdagangan.
Dengan kondisi tersebut, pelaku industri diharapkan tetap waspada terhadap potensi volatilitas harga, sembari menunggu sinyal lebih jelas dari data fundamental yang akan dirilis dalam waktu dekat. (A3)