Irigasi Jadi Prioritas, Pemerintah Kucurkan Rp12 Triliun untuk Pasokan Air Petani

Irigasi Jadi Prioritas, Pemerintah Kucurkan Rp12 Triliun untuk Pasokan Air Petani
Agricom.id

04 April 2026 , 22:34 WIB

Wamentan Sudaryono saat menghadiri seminar Ketahanan Pangan di Universitas Pertahanan, Bogor, pada Senin (2/4/2026). Foto: Kementan

 

AGRICOM, BOGOR – Pemerintah terus memperkuat langkah menuju swasembada pangan nasional melalui peningkatan produksi dan kebijakan strategis yang terintegrasi. Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan bahwa kunci utama terletak pada peningkatan produktivitas lahan serta optimalisasi frekuensi tanam.

Hal tersebut disampaikan Sudaryono saat menghadiri seminar Ketahanan Pangan di Universitas Pertahanan, Bogor, pada Senin (2/4/2026), yang juga dihadiri Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto serta kalangan akademisi dan mahasiswa.

Dalam sambutannya, Wamentan Sudaryono atau yang akrab disapa Mas Dar menegaskan bahwa kunci utama mewujudkan swasembada pangan terletak pada peningkatan produksi melalui intensifikasi pertanian.

BACA JUGA: Panen Kuningan Perkuat Stok Beras di Tengah Ancaman El Nino

“Agar panen lebih banyak, maka yang harus dilakukan adalah menanam lebih banyak. Ini bisa dilakukan melalui peningkatan produktivitas di lahan yang sama serta meningkatkan frekuensi tanam dalam satu tahun,” ujar Wamentan Sudaryono yang juga Ketua Umum DPN HKTI.

Ia menjelaskan, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong kebijakan yang mampu meningkatkan produktivitas petani, termasuk menggenjot hasil panen per hektare melampaui rata-rata saat ini. Selain itu, Kementan juga terus melakukan optimalisasi indeks pertanaman agar lahan petani dapat ditanami lebih sering dalam satu tahun.

Lebih lanjut, Wamentan Sudaryono menekankan bahwa keberhasilan swasembada pangan tidak lepas dari dukungan kebijakan strategis pemerintah. Salah satu yang krusial adalah perbaikan infrastruktur irigasi. Ia mencontohkan, pembangunan 61 bendungan pada era sebelumnya belum sepenuhnya optimal karena keterbatasan kewenangan dalam pembangunan jaringan irigasi hingga tingkat tersier.

BACA JUGA: Sumur Bor JIAT di Mojokerto Pangkas Biaya Petani hingga 80 Persen

“Melalui Instruksi Presiden terkait irigasi, kini seluruh pihak baik pemerintah pusat maupun daerah dapat berperan dalam pembangunan jaringan irigasi. Dengan anggaran mencapai Rp12 triliun pada 2025, perbaikan irigasi diharapkan mampu memastikan ketersediaan air bagi petani,” jelasnya, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Sabtu (4/4).

Mas Dar menambahkan, ketersediaan air menjadi faktor kunci dalam produksi pertanian. “Petani bisa membeli benih dan pupuk sendiri, tetapi tanpa air, mereka tidak dapat menanam. Karena itu, irigasi menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Selain irigasi, reformasi kebijakan pupuk juga menjadi langkah penting. Sebelumnya, distribusi pupuk bersubsidi terkendala panjangnya rantai birokrasi yang melibatkan banyak pihak. Kini, melalui penyederhanaan regulasi, distribusi pupuk dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran melalui pendataan oleh penyuluh pertanian, verifikasi Kementerian Pertanian, hingga penyaluran oleh produsen ke kelompok tani.

BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Bersama KPBN Perkuat Transparansi Harga CPO Lewat Skema E-Bidding Terbuka

Kebijakan lain yang turut mendorong semangat petani adalah penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini dinilai mampu menjaga harga saat panen sekaligus memberikan kepastian pendapatan bagi petani.

“Dengan kebijakan yang tepat, meskipun lahan dan jumlah petani tidak bertambah, bahkan anggaran belum meningkat signifikan, target swasembada tetap bisa dicapai,” ungkapnya.

Wamentan Sudaryono juga menyoroti peluang sektor pertanian bagi generasi muda, khususnya melalui komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar global. Ia mencontohkan kelapa sawit sebagai salah satu komoditas unggulan Indonesia.

BACA JUGA: Kementan Percepat Hilirisasi Pertanian, Dorong Biofuel dan Bioetanol untuk Kemandirian Energi

“Sering muncul pertanyaan, bagaimana anak muda bisa kaya dari sektor pertanian. Salah satunya melalui komoditas seperti sawit yang tidak diatur secara ketat dan mengikuti harga pasar dunia. Indonesia menyumbang sekitar 60 persen pasokan sawit global,” jelasnya.

Menurutnya, dibandingkan sumber minyak nabati lain seperti kanola dan bunga matahari, sawit memiliki efisiensi yang jauh lebih tinggi. Satu hektare sawit dapat menghasilkan minyak nabati setara dengan sekitar 15 hektare bunga matahari.

“Produk turunan sawit juga sangat luas, mulai dari minyak goreng, margarin, hingga kebutuhan industri seperti sabun dan skincare. Ini menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki potensi besar untuk memberikan nilai tambah ekonomi,” pungkasnya. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP