Harga CPO KPBN Kamis (4/6) Naik Tipis ke Rp15.075/Kg, Bursa Malaysia Justru Ditutup Melemah


AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar domestik Indonesia kembali mencatat kenaikan pada Kamis (4/6/2026). Berdasarkan hasil tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), harga CPO ditetapkan sebesar Rp15.075 per kilogram, naik Rp50 per kilogram atau sekitar 0,33 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang berada di level Rp15.025 per kilogram.

Data yang dihimpun dari KPBN menunjukkan harga CPO Franco Belawa dan Dumai ditetapkan sebesar Rp15.075 per kilogram. Sementara itu, harga CPO Franco Talang Duku berada di level Rp14.875 per kilogram, Franco Teluk Bayur Rp14.945 per kilogram, dan Franco Palembang sebesar Rp14.925 per kilogram.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Rabu (3/6) Naik Lagi Ke Rp15.025/Kg, Bursa Malaysia Melonjak Didorong Sentimen Produksi dan Energi

Untuk komoditas crude palm kernel oil (CPKO), harga Franco Dumai tercatat withdrawn (WD) di level Rp28.229 per kilogram dengan penawaran tertinggi mencapai Rp27.080 per kilogram.

Pada komoditas palm kernel (PK), sejumlah tender juga berstatus withdrawn. Harga PK Loco PKS Talang Lebar tercatat Rp12.151 per kilogram dengan penawaran tertinggi Rp9.600 per kilogram. Sementara PK Loco PKS Solok Selatan berada di level Rp12.156 per kilogram dengan penawaran tertinggi Rp11.720 per kilogram.

BACA JUGA: CPO Bursa Malaysia Melemah, Tertekan Harga Minyak Kedelai dan Lesunya Ekspor Mei

Adapun PK Loco PKS Bunut tercatat sebesar Rp12.262 per kilogram dengan penawaran tertinggi Rp12.000 per kilogram. Untuk PK Loco PKS Pengabuan, harga berada di level Rp12.146 per kilogram dengan penawaran tertinggi Rp11.520 per kilogram, sedangkan PK Loco PKS Rimbo Dua tercatat Rp12.152 per kilogram dengan penawaran tertinggi Rp11.750 per kilogram.

Di tengah penguatan harga CPO domestik, pergerakan harga minyak sawit di pasar internasional justru menunjukkan tren sebaliknya. Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah pada Kamis (4/6/2026), tertekan oleh penurunan harga minyak kedelai global serta perlambatan ekspor minyak sawit Malaysia sepanjang Mei 2026.

BACA JUGA: Pemerintah Kaji Penyesuaian HET MINYAKITA, Seiring Perubahan Harga

Pelaku pasar menilai melemahnya kinerja ekspor menjadi salah satu faktor utama yang membebani sentimen perdagangan. Permintaan terhadap minyak sawit Malaysia dinilai masih belum pulih sepenuhnya, sehingga mendorong aksi jual di pasar berjangka.

Dilansir dari Bernama, kontrak CPO pengiriman Juni 2026 turun RM74 menjadi RM4.531 per ton. Kontrak Juli 2026 juga terkoreksi RM72 dan ditutup pada level RM4.566 per ton.

Sementara itu, kontrak Agustus dan September 2026 masing-masing melemah RM76 menjadi RM4.601 per ton dan RM4.629 per ton. Kontrak Oktober 2026 turun RM77 menjadi RM4.657 per ton, sedangkan kontrak November 2026 terkoreksi RM75 menjadi RM4.686 per ton.

BACA JUGA: Harga Karet SGX-SICOM Kamis (3/6) Naik Lagi ke Rp41.819/Kg, Semakin Dekati Level Rp42 Ribu

Aktivitas perdagangan di Bursa Malaysia turut mengalami penurunan. Volume transaksi tercatat sebanyak 95.888 lot, lebih rendah dibandingkan 104.077 lot pada sesi sebelumnya. Namun demikian, posisi open interest meningkat menjadi 298.582 kontrak dari sebelumnya 289.868 kontrak, yang menunjukkan minat investor terhadap kontrak berjangka CPO masih cukup kuat.

Di pasar fisik Malaysia, harga CPO untuk pengiriman Juni di wilayah Selatan Malaysia juga turun RM90 menjadi RM4.550 per ton, mengikuti pelemahan yang terjadi di pasar berjangka.

BACA JUGA: Harga Referensi Biji Kakao Juni 2026 Melonjak 17%, Dipicu Gangguan Logistik Global dan Turunnya Pasokan Nigeria

Perbedaan arah pergerakan harga antara pasar domestik Indonesia dan Bursa Malaysia menunjukkan bahwa faktor permintaan lokal masih memberikan dukungan terhadap harga CPO nasional, meskipun sentimen global saat ini cenderung tertekan oleh melemahnya ekspor dan pergerakan harga minyak nabati pesaing di pasar internasional. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP