Harga CPO Malaysia Kembali Terkoreksi, Permintaan India dan China Jadi Sorotan Pasar

Harga CPO Malaysia Kembali Terkoreksi, Permintaan India dan China Jadi Sorotan Pasar
Agricom.id

14 May 2026 , 18:26 WIB

Dok. Agricom.id/ Melemahnya impor minyak sawit India serta perlambatan permintaan dari China menekan harga CPO Malaysia ke level terendah dalam dua bulan terakhir. Harga CPO di pasar domestik KPBN juga ikut terkoreksi. 

 

AGRICOM, JAKARTA – Perdagangan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali bergerak melemah pada Rabu (13/5/2026), dipicu perlambatan permintaan dari dua konsumen terbesar dunia, yakni India dan China. Tekanan dari sisi permintaan tersebut membuat harga CPO menyentuh level penutupan terendah dalam dua bulan terakhir.

Berdasarkan laporan pasar yang dihimpun dari Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juli 2026 ditutup turun RM41 per ton atau sekitar 0,91% menjadi RM4.440 per ton metrik. Posisi tersebut menjadi level penutupan terendah sejak 10 Maret 2026.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Kembali Melemah, Tertekan Penurunan Palm Olein Dalian

Pelaku pasar menilai penurunan permintaan impor dari India dan China mulai memberikan tekanan signifikan terhadap pasar minyak sawit global. Kondisi ini juga diperburuk oleh ketatnya persaingan harga dengan minyak nabati lain, terutama minyak kedelai dan minyak bunga matahari.

Sementara itu, di pasar domestik, harga CPO pada PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) turut mengalami penurunan. Pada perdagangan Rabu (13/5/2026), harga CPO ditetapkan sebesar Rp15.100 per kilogram, turun Rp50 per kilogram atau sekitar 0,33% dibandingkan perdagangan Selasa (12/5/2026) yang berada di level Rp15.150 per kilogram.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Selasa (12/5) Turun Jadi Rp15.150 Per Kg

Sementara itu, data dari Solvent Extractors' Association of India menunjukkan impor minyak sawit India sepanjang April 2026 turun hingga 26% dibandingkan bulan sebelumnya dan menjadi level terendah dalam empat bulan terakhir. Penurunan impor tersebut dipicu lemahnya permintaan dari sektor institusional serta tingginya harga CPO yang membuat selisih harga dengan minyak nabati pesaing semakin tipis.

Analis pasar menilai kondisi tersebut membuat pembeli cenderung beralih ke alternatif minyak nabati lain yang dinilai lebih kompetitif. India sendiri selama ini menjadi salah satu pasar utama ekspor minyak sawit dunia, sehingga penurunan impor negara tersebut langsung berdampak terhadap sentimen pasar global.

BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Rabu (13/5) Turun Tipis ke Rp38.651 Per Kg

Dari pasar minyak nabati lainnya, pergerakan harga juga cenderung bervariasi. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian tercatat turun 0,04%, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah lebih dalam sebesar 1,28%.

Berbeda dengan pasar Asia, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) justru menguat tipis sekitar 0,11%. Kenaikan terbatas tersebut mencerminkan pasar masih menunggu arah baru dari permintaan global minyak nabati dan perkembangan produksi di negara-negara produsen utama.

BACA JUGA: Kolaborasi APKARINDO Sumsel dan JICA Uji Coba Teknologi Pengendalian Penyakit Gugur Daun Karet

Pelaku industri memperkirakan pergerakan harga CPO dalam jangka pendek masih akan dibayangi tekanan permintaan global, terutama apabila impor dari India dan China belum menunjukkan pemulihan signifikan. Selain itu, volatilitas harga energi dan nilai tukar juga diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar minyak sawit dunia. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP