Kementan: Pasokan Pangan Aman, Beras Tak Lagi Jadi Penyumbang Utama Inflasi

Kementan: Pasokan Pangan Aman, Beras Tak Lagi Jadi Penyumbang Utama Inflasi
Agricom.id

18 June 2026 , 16:52 WIB

Dok. Istimewa/ Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan pasokan pangan nasional dalam kondisi aman dan stabil. Didukung produksi yang kuat, beras tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi, sementara pemerintah terus memperkuat distribusi dan stabilisasi harga untuk menjaga daya beli masyarakat.

AGRICOM, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan ketersediaan pangan nasional dalam kondisi aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Stabilnya produksi dan pasokan beras serta berbagai komoditas pangan strategis lainnya dinilai berhasil menjaga inflasi tetap terkendali, bahkan membuat beras tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pada Mei 2026 secara tahunan (year-on-year/yoy) tercatat sebesar 3,08 persen, sedangkan inflasi bulanan (month-to-month/mtm) mencapai 0,28 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan inflasi, khususnya dari sektor pangan, masih berada dalam batas yang terkendali.

BACA JUGA: Kementan Tanam Serempak 52 Ribu Hektare di 25 Provinsi, Optimalkan Oplah dan CSR

Dilansir dai laman Kementan, Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa inflasi pada periode Iduladha tahun ini relatif lebih rendah dibandingkan saat Idulfitri. Menurutnya, kontribusi komoditas pangan terhadap inflasi Mei juga tidak terlalu besar.

“Untuk Mei 2026 inflasi month to month sebesar 0,28 persen. Jika dibandingkan dengan momen Idulfitri, inflasi pada momen Iduladha relatif lebih rendah. Untuk komoditas pangan, andilnya terhadap inflasi Mei juga tidak terlalu tinggi,” ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (15/6/2026).

Ia menjelaskan komoditas yang memberi andil terhadap inflasi Mei antara lain cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan bensin. Meski demikian, secara umum kontribusi komoditas pangan terhadap inflasi tetap terkendali.

BACA JUGA: Mendag Busan Mengajak Industri Manufaktur Manfaatkan TEI 2026 untuk Perluas Pasar Ekspor

Senada, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian juga menyampaikan bahwa beras kini relatif terjaga dan tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi seperti sebelumnya. Komoditas pangan strategis lainnya seperti daging ayam ras, daging sapi, gula pasir, dan telur ayam ras juga menunjukkan kondisi yang baik.

“Beras relatif terjaga dan selama dua tahun terakhir tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi. Daging ayam ras, daging sapi, gula pasir, dan telur ayam ras juga berada dalam kondisi baik,” jelas Tito.

Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan capaian tersebut menunjukkan produksi pangan nasional semakin kuat dan mampu menjaga stabilitas harga di tengah tingginya kebutuhan masyarakat.

BACA JUGA: Belajar dari Kegagalan, Mentan Amran Motivasi Mahasiswa IPB Raih Mimpi Besar

“Kita syukuri beras tidak lagi menjadi penyumbang inflasi utama,” ungkap Mentan Amran.

Untuk menjaga tren positif tersebut, Kementan terus memperkuat distribusi dan stabilisasi harga bersama pemerintah daerah, Bulog, dan ID Food. Menurut Mentan Amran, gejolak harga pada sejumlah komoditas seperti bawang merah dan minyak goreng lebih dipengaruhi oleh faktor distribusi, bukan ketersediaan pasokan.

“Bawang merah ini anomali karena kita sudah ekspor. Distribusinya yang akan kita perbaiki ke depan. Untuk minyak goreng, bahan bakunya lebih dari cukup sehingga perlu percepatan distribusi ke daerah,” ujarnya.

BACA JUGA: Tender CPO KPBN Rabu (17/6) Berakhir Withdraw, Penawaran Tertinggi Rp15.150/Kg

Mentan Amran juga meminta seluruh pemerintah daerah bersama Bulog mengaktifkan pasar murah untuk menjaga keseimbangan harga sekaligus membantu peternak ayam dan telur yang saat ini menghadapi tekanan harga.

“Kami mohon seluruh gubernur dan bupati bersama Bulog mengaktifkan pasar murah beras, ayam, dan telur. Harga ayam dan telur saat ini perlu dukungan agar Bulog dan ID Food menjadi offtaker dan menjaga keseimbangan harga,” katanya.

Selain itu, Kementan telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar konsumsi telur dan daging ayam dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditingkatkan dari satu kali menjadi tiga kali dalam sepekan.

BACA JUGA: Harga Karet SGX Rabu (17/6) Naik Rp622/Kg, Dekati Level Rp41 Ribu

“Ini bisa menjadi alat kontrol terhadap turunnya harga pangan sekaligus membantu peternak,” tambahnya.

Mentan Amran menambahkan, ketahanan pangan nasional semakin kokoh. Dari 11 komoditas pangan yang dikendalikan pemerintah, delapan di antaranya telah swasembada, sementara tiga komoditas lainnya, yakni bawang putih, kedelai, dan daging, masih dipenuhi sebagian melalui impor.

“Kebutuhan kita sekitar 68 juta ton, produksi mencapai 73 juta ton. Impor hanya sekitar 3,5 juta ton atau sekitar 4 persen. Berdasarkan konsensus FAO, impor di bawah 10 persen sudah termasuk swasembada. Jadi saat ini kita sudah swasembada pangan,” tegasnya.

 Kementan optimistis penguatan produksi, kelancaran distribusi, serta sinergi dengan pemerintah daerah akan terus menjaga stabilitas harga pangan dan mendukung pengendalian inflasi nasional sekaligus menjaga daya beli masyarakat. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP