AGRICOM, JAKARTA – Pergerakan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives berlangsung relatif datar pada perdagangan Selasa (7/7/2026). Setelah mencatat penguatan pada sesi sebelumnya, harga CPO hanya terkoreksi tipis karena pasar masih ditopang kenaikan harga minyak nabati global dan kekhawatiran terhadap dampak fenomena El Nino terhadap produksi sawit.
Dikutip dari Reuters, kontrak berjangka CPO acuan pengiriman September 2026 ditutup melemah RM1 per ton atau sekitar 0,02 persen ke level RM4.549 per ton. Pelemahan tersebut tertahan oleh sentimen positif dari pasar minyak nabati, meski penguatan nilai tukar ringgit membatasi ruang kenaikan harga karena mengurangi daya saing ekspor minyak sawit Malaysia.
BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Menguat Didorong Reli Minyak Nabati Global
Di pasar domestik, harga CPO yang dipasarkan melalui PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) tercatat mengalami withdraw (WD). Penawaran tertinggi mencapai Rp15.488 per kilogram, meningkat Rp126 per kilogram atau sekitar 0,82 persen dibandingkan penawaran tertinggi pada perdagangan Senin (6/7/2026) yang berada di level Rp15.362 per kilogram.
Dukungan terhadap harga CPO juga datang dari pergerakan minyak nabati di pasar internasional. Di Bursa Dalian, Tiongkok, kontrak minyak kedelai (soyoil) yang paling aktif diperdagangkan naik 1,31 persen, sementara kontrak minyak sawit menguat lebih tinggi, yakni 1,53 persen.
Sementara itu, di pasar Amerika Serikat, kontrak minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) juga ditutup menguat 0,14 persen, mencerminkan sentimen positif yang masih menyelimuti perdagangan minyak nabati dunia.
Pelaku pasar kini terus mencermati perkembangan cuaca di kawasan produsen utama sawit, terutama potensi dampak El Nino terhadap produktivitas perkebunan, di samping pergerakan mata uang dan harga minyak nabati global yang diperkirakan masih akan menjadi faktor utama penggerak harga CPO dalam waktu dekat. (A3)