Di tengah konflik geopolitik dunia yang memicu ketidakpastian energi dan ekonomi, Indonesia memperkuat strategi swasembada pangan dan energi dengan mengandalkan komoditas strategis seperti sawit dan singkong. Foto: Kementan
AGRICOM, JAKARTA — Ketegangan geopolitik global yang melibatkan sejumlah negara besar, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah, memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi dan pasokan energi dunia. Menghadapi situasi tersebut, Indonesia memilih memperkuat fondasi ekonomi domestik dengan mempercepat program swasembada pangan dan energi berbasis sumber daya nasional.
Strategi ini tidak hanya bertumpu pada komoditas utama seperti minyak sawit, tetapi juga membuka peluang bagi komoditas lain, termasuk singkong, sebagai sumber energi alternatif di masa depan. Dengan kapasitas produksi yang besar serta ekspor yang tetap berjalan, Indonesia dinilai memiliki daya tahan ekonomi yang cukup kuat untuk menghadapi tekanan global.
BACA JUGA:
- Harga Referensi CPO Maret 2026 Naik 2,22%, Bea Keluar Ditetapkan USD 124/MT
Salah satu komoditas yang menjadi pilar utama adalah minyak sawit. Pada 2025, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia mencatatkan peningkatan yang cukup signifikan.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, mengungkapkan bahwa produksi sawit nasional tahun lalu menunjukkan tren positif dibandingkan tahun sebelumnya.
“Produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 51 juta ton. Jika digabungkan dengan produksi palm kernel oil (PKO), total produksi minyak sawit nasional diperkirakan mencapai sekitar 56 juta ton,” kata Eddy, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Minggu (15/3).
BACA JUGA:
- Harga TBS Sawit Sumut Naik Tajam, Tembus Rp3.776,35/Kg pada Periode 11–17 Maret 2026
- Harga TBS Sawit Sumbar Menguat, Tembus Rp3.778,09/Kg pada Periode 8–14 Maret 2026
Data industri menunjukkan bahwa produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 51,6 juta ton atau meningkat sekitar 7,5 persen dibandingkan 2024 yang berada di level 48,16 juta ton. Peningkatan ini antara lain didorong oleh kondisi cuaca yang relatif baik sepanjang tahun serta harga sawit yang cukup tinggi pada periode sebelumnya, sehingga petani lebih intensif merawat kebun mereka.
Dari sisi pasar global, permintaan ekspor minyak sawit Indonesia juga masih menunjukkan kinerja yang kuat. Sepanjang 2025, volume ekspor sawit meningkat sekitar 9,5 persen, dari 29,5 juta ton pada 2024 menjadi sekitar 32,3 juta ton pada 2025. Harga minyak sawit yang relatif lebih kompetitif dibandingkan minyak nabati lain turut menjadi faktor pendorong utama peningkatan permintaan tersebut.
Meski demikian, konflik global turut memicu lonjakan biaya logistik dan asuransi pengiriman yang diperkirakan meningkat hingga sekitar 50 persen. Kendati demikian, ekspor sawit Indonesia hingga kini tetap berjalan.
BACA JUGA: Harga Karet SGX–SICOM Jumat (13/3) Turun Lagi, Tertinggi Rp 33.311/Kg
Eddy menjelaskan bahwa meskipun biaya pengiriman meningkat tajam, kontrak ekspor yang sudah berjalan tetap dipenuhi dan distribusi masih berlangsung ke sejumlah pasar utama, termasuk India dan China.
Selain pasar ekspor, konsumsi sawit di dalam negeri juga terus mengalami peningkatan, terutama untuk kebutuhan energi melalui program biodiesel. Sepanjang 2025, konsumsi domestik minyak sawit tercatat mencapai sekitar 24,7 juta ton atau meningkat sekitar 3,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, konsumsi biodiesel sendiri mencapai sekitar 12,7 juta ton, naik sekitar 10,9 persen.
Program biodiesel menjadi salah satu pilar penting dalam strategi Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor. Saat ini implementasi kebijakan tersebut berada pada level campuran B40, dengan rencana peningkatan hingga B50 dalam jangka panjang.
BACA JUGA: Pemerintah Perkuat Sinergi Riset Pertanian, Kementan Gandeng BRIN dan Kemendiktisaintek
Menurut Eddy, penguatan program biodiesel perlu diimbangi dengan peningkatan produktivitas perkebunan agar tidak mengganggu keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor.
Di luar sawit, pemerintah juga mulai mendorong optimalisasi komoditas lain sebagai sumber energi terbarukan, salah satunya singkong. Tanaman ini diproyeksikan menjadi bahan baku bioetanol untuk mendukung bauran energi nasional di masa depan.
Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia, Arifin Lambaga, menilai potensi singkong nasional sangat besar untuk berkontribusi terhadap ketahanan energi Indonesia, terutama di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan energi global akibat konflik geopolitik.
Saat ini, produksi singkong Indonesia mencapai sekitar 14 juta ton per tahun. Dengan peningkatan produktivitas serta pengembangan varietas unggul, angka produksi tersebut masih berpotensi meningkat secara signifikan.
Arifin menjelaskan bahwa kebutuhan bioetanol nasional untuk campuran bahan bakar diperkirakan mencapai sekitar 1,4 juta kiloliter per tahun. Jika seluruh kebutuhan tersebut dipenuhi dari bahan baku singkong, maka dibutuhkan sekitar 10 juta ton singkong segar.
Dalam perhitungannya, rata-rata produksi satu liter bioetanol membutuhkan sekitar lima hingga tujuh kilogram singkong segar.
Kementerian Pertanian saat ini juga mendorong pelaku industri dan petani untuk mulai menyiapkan rencana produksi agar singkong dapat menjadi bagian penting dalam ekosistem energi nasional.
Dengan kekuatan pada sektor pangan, energi nabati, serta basis produksi komoditas yang besar, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dalam menghadapi ketidakpastian global. Ketika konflik geopolitik berpotensi mengganggu rantai pasok energi dan pangan dunia, kekuatan sumber daya domestik menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Upaya memperkuat swasembada pangan dan energi pun menjadi strategi jangka panjang Indonesia untuk memastikan ketahanan ekonomi tetap terjaga, bahkan di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks. (A3)