AGRICOM, JAKARTA – Perubahan iklim mulai memberi tekanan nyata terhadap produksi kopi Indonesia. Kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, hingga meningkatnya cuaca ekstrem tidak hanya memengaruhi pertumbuhan tanaman, tetapi juga produktivitas dan kualitas biji kopi.
Jika tidak diantisipasi melalui langkah adaptasi dan mitigasi yang tepat, perubahan kondisi iklim berpotensi mengancam keberlanjutan produksi kopi nasional.
Dilansir Agricom dari Kementerian Pertanian (Kementan), Direktorat Jenderal Perkebunan terus mendorong berbagai strategi untuk memperkuat ketahanan perkebunan kopi terhadap perubahan iklim. Langkah tersebut mencakup penerapan teknologi budidaya adaptif, penggunaan benih unggul yang toleran terhadap cekaman iklim, pengelolaan tanaman penaung, konservasi tanah dan air, serta peningkatan kapasitas pekebun.
BACA JUGA: Kemendag Perkuat Daya Saing UMKM Kopi untuk Rebut Peluang Ekspor ke Jepang
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan komoditas perkebunan strategis, termasuk kopi.
“Mitigasi terus diperkuat melalui penerapan budidaya adaptif, penggunaan benih unggul yang toleran terhadap kekeringan, serta pendampingan kepada pekebun agar produksi tetap terjaga,” ujar Amran.
Urgensi langkah tersebut semakin kuat seiring meningkatnya perubahan kondisi iklim. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), 2024 menjadi tahun terpanas di Indonesia sejak pengamatan dimulai pada 1981. Anomali suhu rata-rata mencapai sekitar 0,8°C di atas normal klimatologis periode 1991–2020.
BACA JUGA: Kementan Luncurkan Program NBS-Agroforestry, Perkuat Perkebunan Berkelanjutan Hadapi Perubahan Iklim
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar ancaman jangka panjang, melainkan sudah memberikan dampak terhadap sektor pertanian dan perkebunan.
Penelitian Haritsah dan sejumlah peneliti lainnya pada 2025 juga menunjukkan kuatnya pengaruh faktor iklim terhadap produksi kopi Arabika, khususnya di Jawa Barat. Suhu udara dan curah hujan disebut mampu menjelaskan sekitar 63,7% variasi produktivitas kopi Arabika.
Temuan itu memperkuat kebutuhan penerapan teknologi budidaya yang mampu menyesuaikan dengan perubahan kondisi lingkungan.
Kopi sendiri merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis Indonesia. Komoditas ini menjadi sumber pendapatan bagi jutaan pekebun, sekaligus berkontribusi terhadap ekspor dan semakin mendapat perhatian pasar global.
Karena itu, menjaga produktivitas dan kualitas kopi tidak hanya berkaitan dengan keberlanjutan usaha pekebun, tetapi juga menyangkut ketahanan ekonomi dan daya saing perkebunan nasional.
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Heru Tri Widarto mengatakan perubahan iklim harus dihadapi dengan meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat praktik budidaya berkelanjutan.
“Tantangan ke depan semakin kompleks, salah satunya akibat perubahan iklim. Karena itu, peningkatan produktivitas harus dibarengi dengan penerapan teknologi dan praktik budidaya yang berkelanjutan agar produksi kopi tetap terjaga,” kata Heru.
BACA JUGA: Kemendag Perkuat Ekosistem Ekspor di Sulawesi, Papua, dan Maluku
Risiko Hama dan Penyakit Meningkat
Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada pertumbuhan tanaman, tetapi juga dapat mengubah pola serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
Perubahan suhu dan curah hujan dapat memengaruhi populasi hama serta perkembangan patogen. Suhu yang lebih tinggi, misalnya, dapat mempercepat siklus hidup Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei) dan memperluas wilayah penyebarannya ke daerah yang sebelumnya relatif aman.
Sementara itu, perubahan pola hujan dan meningkatnya kelembapan dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung perkembangan sejumlah penyakit kopi, seperti Karat Daun Kopi (Hemileia vastatrix), Bercak Daun (Cercospora coffeicola), Antraknosa (Colletotrichum spp.), dan Busuk Buah Kopi.
Peningkatan frekuensi dan intensitas serangan hama maupun penyakit pada akhirnya dapat menekan produktivitas sekaligus menurunkan mutu biji kopi.
Karena itu, penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang menyesuaikan dengan kondisi iklim menjadi semakin penting. Strategi tersebut tidak hanya bertujuan mengendalikan OPT, tetapi juga memperkuat ketahanan sistem produksi kopi terhadap perubahan lingkungan.
BACA JUGA: Kementan Perkuat Infrastruktur Irigasi di Karawang untuk Jaga Produksi Padi Saat Musim Kemarau
Praktik Budidaya Jadi Benteng Pekebun
Sejumlah langkah dapat dilakukan pekebun untuk mengurangi risiko perubahan iklim. Penggunaan varietas atau benih unggul yang lebih toleran terhadap cekaman iklim menjadi salah satu pilihan.
Pengaturan tanaman penaung juga penting untuk menjaga kestabilan suhu mikro di dalam kebun. Sementara konservasi tanah dan air dapat dilakukan melalui pembuatan rorak, terasering, penggunaan mulsa, serta penanaman tanaman penutup tanah.
Pekebun juga perlu melakukan pemangkasan secara rutin untuk menjaga sirkulasi udara, menerapkan pemupukan berimbang sesuai kebutuhan tanaman, serta melakukan pemantauan hama dan penyakit secara berkala.
Pemanfaatan informasi prakiraan cuaca juga dapat membantu pekebun menentukan waktu tanam, pemupukan hingga panen secara lebih tepat.
Heru menegaskan, keberhasilan menghadapi perubahan iklim tidak hanya ditentukan oleh teknologi. Penguatan sumber daya manusia dan kolaborasi antarpemangku kepentingan juga menjadi faktor penting.
“Sinergi antara pemerintah, peneliti, penyuluh, pelaku usaha, dan pekebun menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan subsektor kopi nasional terhadap perubahan iklim,” ujarnya.
Menurut Heru, pendampingan berkelanjutan dan penerapan praktik perkebunan ramah lingkungan diharapkan dapat membantu kopi Indonesia beradaptasi sekaligus mempertahankan daya saing di pasar global.
Direktorat Jenderal Perkebunan juga terus mendorong penerapan Good Agricultural Practices (GAP), penggunaan benih unggul bersertifikat, pengembangan kebun percontohan, peningkatan kapasitas pekebun melalui penyuluhan, serta pemanfaatan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan di tingkat kebun.
Dengan dukungan teknologi, peningkatan kapasitas pekebun dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, pemerintah optimistis perkebunan kopi Indonesia dapat lebih tangguh menghadapi perubahan iklim.
Menjaga kebun kopi hari ini, pada akhirnya bukan hanya soal mempertahankan produksi. Langkah tersebut menjadi investasi agar kualitas dan cita rasa kopi Indonesia tetap dapat dinikmati hingga generasi mendatang. (A3)